Tak lagi ada suara HP yang berdering di kancah telinga Embun. Sebuah panggilan yang bisa memunculkan senyum di hati Embun. Tidak juga sebuah pesan singkat yang bertulis
"Dinda... mmmmmuuuaaahhh."
Atau yang lain. Kini Embun merasakan arti kesendirian yang amat dia takutkan. Entah kenapa jiwanya menjadi runtuh.
Tak bisakah Meysa mengizinkan Daun menghubungi Embun. Merelakan setetes aja dari selautan kebahagiaan yang ia dapat dari Daun. Padahal suara Daun adalah syifa bagi embun yang kini benar-benar dia butuhkan.
Tak berkuasa Embun menahan rindu yang telah memanah hatinya. Hidup penuh dengan tangis bukanlah bagian dari sisinya. Senyum yang selalu terwujudkan di bibirnya bukanlah senyum palsu yang membohongi hatinya, tapi senyum adalah bentuk ketabahan yang dia rasakan kita hatinya tersayat. Senyum sebagai lambang keikhlasan dari hatinya untuk sebuah keadaan yang sulit untuk dia terima di memorinya.
Tapi apatah yang lebih penting dari sebuah kesabaran.
"Sabar menahan rindu."
"Sabar ketika dilukai"
"Sabar untuk sebuah kehilangan yang sulit dicerna oleh akal sehat."
Rindu yang sangat dalam ini dititipkan kepada Allah. Sungguh Embun tak mau mengnyakiti hati Meysa. Dikorbankannya hati dan hidupnya untuk Meysa.
Rindu itu semakin menggamit hatinya. Ingin dia berteriak. Tapi semua mata menujunya. Tak mungkin sebagai pemimpin dia bisa melakukan itu.
Dia hanya bisa menyudut di sisi ruang yang kini menjadi tempat penuh keramaian. Dia terasa sendiri saat orang-orang mengelilinginya. Hanya senyum saja yang bisa ia berikan buat orang-orang itu. Senyum yang menjemput masuk air mata ke dalam hatinya yang sangat merindukan Daun..
Allah... sampaikanlah rasa rindu Embun kepada Daun.
Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. (Muhammad: 37)
Senin, 08 Agustus 2011
Cinta Embun dan Daun (2)
Cinta lejit tatkala dunia tak berpenghuni, pada sebuah zaman yang tak berpola. Lahirnya tiba-tiba saja, saat sejarah tak bertulis pada semesta yang dialuni nada-nada dilatarbelakangi rasa kekaguman pada sebuah wujud hawa oleh adam. Ia menjadi raja, karena ia tanpa ketakutan, kekecewaan, kesedihan, kemunafikan dan tidak ada kematian yang menimbulkan penyesalan.
Ketulusan cinta Adam dan Hawa menjangkiti embun dan daun, kedua manusia itu berada pada barisan makhluk-makhluk suci. Tak sedikit ranjau yang hampir menembusi liku-liku fatamorgana disela deretan jiwa-jiwa santun. Ia mengalir seperti air di dekat dan getar hati kedua makhluk yang kini diacungkan sermbilu-sembilu oleh keluarga, pimpinan bahkan sahabat, musuh-musuh serta orang menginginkan kedua-dua sosok tersebut.
Cinta menggulirkan sejarah pada hati yang bening itu, menjadi sebuah perdebatan. Padahal dikedua insan tersebut cinta sebagai ladang bagi tumbuhnya padi-padi tanpa syarat perbedaan. Daun menjadi tanah yang menumbuhi padi, sedangkan embun memilih daun dijadikan tempat menemui kebahagiaan yang tanpa batas. Seperti mengguyurnya air menuju samudra lepas.
Di samudra tersebut daun dan embun memposisikan diri sebagai buih-buih yang nengapung dipermukaan. Tidak ada kebohongan, tidak ada kepalsuan, mereka hanya tertedah pada kebenaran hati dan logika mereka. Meskipun ada hadangan dari sembilu-sembilu tadi. Di atas permukaan laut, mereka bersentuhan dengan dunia yang melahirkan ketulusan tak ternilai, dikegarangan yang tak menipu. Mereka dapat mendalami kedalaman laut dengan hati dan logika mereka. Hingga mereka menemukan kekuasaan Allah Azza Wajalla dalam sebaik kalimat cinta karena Allah. Laut mereka jadikan tempat untuk masing-masing menilai kepositipan dari kenegatipan-kenegatipan sifat mereka selama ini. Hingga menimbulkan energi cinta yang tak terhalang oleh pemegang-pemegang sembilu yang mempropaganda di dalam public speaking.
Bersama malam puasa yang ke-6 kuceritakan kitah seorang pria yang bernama daun. Seorang lelaki berasal dari keluarga kaya raya bernasib malang karena tidak kunjung menemukan jawaban dari sholat istikhorahnya. Pria berkulit putih hidung yang dari kecilnya mancung (menurutnya) bertinggi badan 173 berambut kasar, beralis tebal, bermata indah telah setahun kehilangan orang yang paling dia cintai. Dia telah kehilangan idenya. Dia mengenal sosok embun ketika usia percintaannya beranjak pada 1,5 tahun dengan wanita Mesya putia. Kedekatan hadir pada jiwa yang jauh daun di Bandung di dekatkan oleh Allah bersama embun di Riau melalui kesucian hati yang tanpa tergoreskan oleh nafsu kedengkian, sebut saja namanya cinta. Cinta antara mereka sebenarnya bukanlah cinta terlarang yang pernah dikemukakan dalam barisan fb milik embun. Cinta mereka mencari pelabuhan di dermaga bersama ganasnya siang yang melangkah menapaki pijakan. Sejak saat itu kedua insan ini tak lagi bisa dipisahkan walaupun berada pada keputusan keluarga daun untuk memperistrikan Mesya Putia. Cinta menjadi milik mereka sebagai harta yang paling berharga, tak terikat oleh jenjang martabat, status social, garis silsilah dan tuntutan harta. Pada dasarnya embun berasal dari keluarga yang tergolong susah. Kepalsuan, ketakutan, kegelisahan, kekhawatiran, kekecewaan, kedamaian, kegembiraan dan kekhusukan adalah seperangkat alat yang melekat pada benang yang menyilam cinta mereka. Mereka hanya berenang mengitari gelombang-gelombang sehingga semua mata tertuju pada dua sosok tersebut yang menimbulkan retorika-retorika penghianatan pada pimpinan, keluarga dan Meysa Putia. Mereka tidak menghiraukan cekapan-cekapan karena mereka mempunyai maha karya agung yang penuh stilistika berentak estetika tertanam begitu saja dalam sepenggal daging merah di samping denyut jantung dan kerangka-kerangka yang melindunginya. Jujur saja daun menginginkan embun, begitu juga sebaliknya embun sangat memenginginkan daun. Akan tetapi ketabahan Meysa Putia melunturkan kegarangan niat daun dan embun. Sehingga mereka berujung pada sebuah perpisahan yang tidak mereka inginkan. Daun sebagai pemilik wajah keunikan samudra sebenarnya menemukan kedamaian pada titik-titik embun biarpun hanya sedikit berbandingkan air se samudra luas. Dia melukiskan pesona embun pada kanpas hatinya yang diinginkan oleh Meysa Putia. Kegundahan selalu saja hadir ketika beratnya hati meninggalkan embun saat keharusan akan memilih Meisya. Karena dia melihat ketulusan yang tak mendustai pada gelombang dan komponen-komponen yang menghilangkan sifat-sifat negatif berupa temperamental, perfeksionis, posesip dan menang sendiri. Sekedip mata kenegatifan itu terhapuskan oleh sebuah senyum ketulusan. Meskipun ia menelan kepahitan ketika harus meninggalkan embun demi Meisya dan keluarga besarnya dia tetap bersyukur dan bangga karena perjalanan renangnya terdampar pada tempat bernuansa keislaman yang dipenuhi keelokan dan kemolekan. Tempat itu bernama Mesjid Agung Annur Pekanbaru.
Pada suatu ketika tempat itu mereka juluki rumah cinta. Karena tercipta dari gerakan anak-anak ombak yang bergerak melangkahi barisan tepian pantai samudra di sebuah Magrib menjelang Isya, tempat daun menceritakan sosok ibu pada embun. Di balik jendela sambil bercerita mereka memandangi senyum purnama yan tidak terglobalisasi oleh kelipan bintang-bintang. Mereka dipertemukan di rumah Allah ini dalam keadaan cinta yang padat sekat adat, budaya, tatanan normatif. Mereka disatukan disebuah cinta yang sipertentangkan oleh asal, derajat, harkat dan riuh rendah orang-orang berpengaruh di sekitar mereka. Merekapun ditempatkan pada cermin yang membingkai bayangan-bayangan sendiri. Bayangan tersebut memaksa mereka menciptakan jarak yang pada dasarnya tidak tertuliskan tapi harus terlaksana. Pemilihan akan Meisya untuk pendamping daun membuat hati pada halaman embun bernodakan kepahitan.
Perpisahan mereka pada sebuah hari yang belum mengantarkan malam pada tepian pagi, daun harus berpisah dari embun. Meraka dan cintanya terpisahkan karena bahasa alam yang tak sanggup mereka baca leksikalnya. Sebuah cinta harus terkubur bersama tatapan sayu sang rembulan yang hendak berteduh dari wajah matahari. Kepergian embun menuju ilahi membuat daun berlari kencang menjahui dunia. Lalu melemparkannya pada tepian yang menulisi aroma dalam sosok yang tidak ada seakan ada. Daun menjadi seorang yang dikenal lebih perkasa dalam mengharungi sejarah kehidupannya bersama Meisya.
Minggu, 07 Agustus 2011
Berhenti tak mundur
Aku tau tak bisa berpindah dari Daun, Karena aku tak punya sayap untuk terbang pindah ke tempat lain. Kaki juga aku tak punya. Aku cuma punya daun.
Aku lebih memilih kering bersama panas yang sebentar lagi datang. Biarlah. Semua demi Kebahagiaan Meysa. Aku juga tak mau Daun kehilanganku. Aku ingin selalu damai antara Embun dan Daun. Secara hati Embun yakin, daun memilihnya. Tapui secara manusiawi, Daun meilih Meysa. Semua terserah Allah.
Tak bisa menumpang di Daun saat ini, tak berarti TIDAK di SYURGA. Embun akan selalu menunggu Daun.
Embun sudah siap hidup sendiri di dunia yang sementara ini. Sendiri dengan berbekal senyum. Semoga Allah mengekalkan kedamaian ini. Meskipun Daun tak di sisi, Daun terasa ada karena Daun ada di hati Embun.
Syukur Alhamdulillah... hamba tidak mundur, itu berarti hamba tidak meninggalkan Daun. Karena Embun hanya milik daun secara hati dan logika. Ya Allah.. Hamba mengikhlaskan kebersamaan Meysa dan Daun. Semua demi kebaikannya dan cinta kasih sayangnya pada Al-marhumah Ibu. Aku berfhenti di sini. Dengan segenap doa untuk Daun. Di sini setia menunggu. Tanpa berharap pada manusia, Hanya kepada Allah
Bahagiakanlah kekasih hamba ya Allah. Bahagiakanlah Daun.
Damai di Puasa Ke-7
Alhamdulilah.
Allah memberikan rasa nyaman dan damai di segenap jiwaku. Terima kasih Ya Allah Ya Rahman... Engkau limpahi aku rasa bahagia yang segenap tiada taranya. Engkau jawab doa hamba, dari perhubungan yang rumit ini dengan sebuah solusi.
POLIGAMI...
Aku nyaman saja jika itu yang akan berlaku kelak. Bukan karena aku dibutakan oleh cintaku padanya atau sebaliknya. Bukan cinta dan kasih sayangnya yang tulus membuat aku lupa. Tidak sama sekali. Jujur aku bisa berpikir sehat saat ini. Jujur aku bahkan bisa menggunakan hatiku saat ini.
Kedamaian ini membuat siap untuk menerima keputusan apapun dari Daun. Toh aku hanya sebutir embun yang menyejukkan daun.
Satu wajah yang menyelinap di pikiranku saat ini adalah Meysa Putia. usa shalat subuh, aku ingin membuat Meysa bahagia dengan mengikhlaskan Daun untuk menikahinya. Baru aku berniat saja untuk melakukan pengorbanan ini sebagai ibadah, Allah telah meencurahkan damai di hatiku. Damai yang sangat berbeda.
Aku yakin jika Daun ada di tangannya maka dia akn bisa menyiraminya dengan air setiap hari. Hingga dia akan tumbuh segar. Aku akan menyelinap hadir pada saat subuh saja. menempel saja menjelang siang. Itu saja sudah kurasakan cukup.
Tak banyak yang aku inginkan. Sebuah hubungan yang sah antara aku dan Daun. Meskipun hubungan itu hanya Allah, Daun, Embun, Pak kadi dan Saksi saja yang tau. Biarlah semua itu merugikan aku. Tapi aku tak merasakan keputusan ini akan merugikan diriku. Aku bahagia karenanya.
Itu adalah kebutuhanku saat ini. Embun butuh daun untuk bertempat tinggal. Karena Embun sulit untuk hadir di tempat lain.
JIkapun Daun tak menikahi embun, maka embun siap bergulir sendiri mempertahankan cinta suci yang dia punya. Berteman sebuah Al-Quran dan Jeket hitam, maka embun siap melangkah Menuju Allah. Biarlah di mata keluarga, sahabat, pimpinan dan manusia lain embun seorang wanita tak berpemilkan. Tapi di mata Allah Embun adalah milik Daun. Baik di mata manusia belum tentu baik di mata Allah. Embun dan Daun hanya ingin terbaik di mata Allah.
Doaku di Puasa ke-7 ini, semoga Meysa, Kelurganya dan seluruh keluarga besar Daun bahagia dengan pertunangan dan pernikahan Meysa Putia dan Daun.
Kekalkanlah kedamaian di hati ini mengharungi hidup. Aku tak lebih besar dari setitik air. Allah pasti bisa mengaliriku ke samudra luas itu. Amin.
Dekatkanlah Daun di sisi-Mu ya Allah. Hingga ibu di Syurga tersenyum...
Sabtu, 06 Agustus 2011
Cincin Tunangan...
Cinta menjadikan aku sabar ketika mendengarkan sebuah ucapan yang sangat memilukan hati. Sebuah kalimat yang membuat luka di hati
"Kanda lagi di mana?"
"Dalam mobil."
"Kanda mau kemana?"
"Mau beli cincin tunangan."
Ya Allah... Aku runtuh dengan kalimatnya barusan yang ku dengar dari kejauhan. Lewat sebuah telp.
Hamba tetap bersyukur dengan semua derita ini ya Allah. Semoga semua yang hamba jalani ini, bernilai ibadah di Hadapanmu. Hamba harus melepaskan orang yang paling hamba sayang di saat dia menjadi satu-satunya pilihan di hati.
Entah kenapa, dia sepertinya sengaja menghapus jejak di hatinya tentang aku...
Ya Allah... aku tak lebih besar dari setetes air di lautan. Tak mungkin engkau gagal mengantarkan aku pada sebuah samudera.
"Kanda lagi di mana?"
"Dalam mobil."
"Kanda mau kemana?"
"Mau beli cincin tunangan."
Ya Allah... Aku runtuh dengan kalimatnya barusan yang ku dengar dari kejauhan. Lewat sebuah telp.
Hamba tetap bersyukur dengan semua derita ini ya Allah. Semoga semua yang hamba jalani ini, bernilai ibadah di Hadapanmu. Hamba harus melepaskan orang yang paling hamba sayang di saat dia menjadi satu-satunya pilihan di hati.
Entah kenapa, dia sepertinya sengaja menghapus jejak di hatinya tentang aku...
Ya Allah... aku tak lebih besar dari setetes air di lautan. Tak mungkin engkau gagal mengantarkan aku pada sebuah samudera.
Jumat, 05 Agustus 2011
Rindu... milik orang
Allah...
Telah Engkau hadirkan rindu yang sangat dalam di hatiku untuknya. Tak bisa aku pungkiri. Ku ingin sekali menemukan manja dia di pangkuanku... sambil mengucapkan kata... CINTA...
Terima kasih Ya Allah... Kerinduan ini membuktikan kekerdilanku di hadapanmu.
Doakau di Puasa ke Lima ini..
"Jika dia dalam keadaan sakit, maka sembuhkanlah dia."'
"Jika dia dalam keadaan gundah, maka tenangkanlah hatinya."
"Jika dia dalam keadaan marah, maka sejukkanlah hatinya."
"Jika dia dalam keadaan bahagia, maka tularilah kebahagiaannya untukku."
"Jika dia dalam keadaan merindukanku, maka ku titip juga salam rindu ini hanya untuknya."
"Hanya dia.. dia."
Telah Engkau hadirkan rindu yang sangat dalam di hatiku untuknya. Tak bisa aku pungkiri. Ku ingin sekali menemukan manja dia di pangkuanku... sambil mengucapkan kata... CINTA...
Terima kasih Ya Allah... Kerinduan ini membuktikan kekerdilanku di hadapanmu.
Doakau di Puasa ke Lima ini..
"Jika dia dalam keadaan sakit, maka sembuhkanlah dia."'
"Jika dia dalam keadaan gundah, maka tenangkanlah hatinya."
"Jika dia dalam keadaan marah, maka sejukkanlah hatinya."
"Jika dia dalam keadaan bahagia, maka tularilah kebahagiaannya untukku."
"Jika dia dalam keadaan merindukanku, maka ku titip juga salam rindu ini hanya untuknya."
"Hanya dia.. dia."
Cinta Embun dan Daun
Hidup bagaikan sebercak embun di dedaunan. Menunggu saat saja ia terjatuh. Begitu jugalah aku yang saat ini menunggu titik kehancuran. Aku mencari tiap kesalahan yang tak pernah kami lakukan. Keadaan yang memaksakan kami untuk berpisah. Sungguh embun ingin selala berada di dedaun itu. karena di situ dia merasakan damai dan menjadi tempat paling tinggi.
Pohon menjadikan embun sebagai putri yang selalu dia rawat dan di jaga. Pohon senang ketika ada embun yang selalu mendinginkan dirinya. Kebersamaan antara embun dan pohon saling melengkapi dan memberikan damai dan kenyamanan yang tak bisa dicarikan dari yang lain.
Embun kini... sendiri. Sedangkan pohon melambaikan tangan untuk memautkan cincin di tangan lain. Demi mempertimbangkan keluarga, pohon telah meninggal embun sendiri yang masih basah dan terjatuh di tanah.
Embun mungkin harus kembali ke tempat asalnya. Tapi Allah begitu lambat memerintahkan Malaikat Maut untuk menjemputnya. Dia kini. Bergelimpangan di atas tanah. Lubang untuk kotak persegi itu belum digali karena belum ada suara yang mengharuskan penggali kubur membawa cangkul.
Kini Embun harus mematung diri. Menunggu tanggal 24 September yang sangat menyakitkan itu. Embun mungkin meneteskan hari dengan segala resah kegundahan yang tak berujung.
Embun yang berada di atas tanah meninggalkan bercak sebelum masuk Allah mengirim malaikat maut menjemput hadirnya. Kini berkas itu tak bisa terhapuskan karena bergulung dengan debu. terbang hilang ke mana-mana. Embun menunggu Daun mesra bercinta di Syurga ALLAH
Pohon menjadikan embun sebagai putri yang selalu dia rawat dan di jaga. Pohon senang ketika ada embun yang selalu mendinginkan dirinya. Kebersamaan antara embun dan pohon saling melengkapi dan memberikan damai dan kenyamanan yang tak bisa dicarikan dari yang lain.
Embun kini... sendiri. Sedangkan pohon melambaikan tangan untuk memautkan cincin di tangan lain. Demi mempertimbangkan keluarga, pohon telah meninggal embun sendiri yang masih basah dan terjatuh di tanah.
Embun mungkin harus kembali ke tempat asalnya. Tapi Allah begitu lambat memerintahkan Malaikat Maut untuk menjemputnya. Dia kini. Bergelimpangan di atas tanah. Lubang untuk kotak persegi itu belum digali karena belum ada suara yang mengharuskan penggali kubur membawa cangkul.
Kini Embun harus mematung diri. Menunggu tanggal 24 September yang sangat menyakitkan itu. Embun mungkin meneteskan hari dengan segala resah kegundahan yang tak berujung.
Embun yang berada di atas tanah meninggalkan bercak sebelum masuk Allah mengirim malaikat maut menjemput hadirnya. Kini berkas itu tak bisa terhapuskan karena bergulung dengan debu. terbang hilang ke mana-mana. Embun menunggu Daun mesra bercinta di Syurga ALLAH
Kamis, 04 Agustus 2011
Perpustakaan FKIP UIR
Alhamdulillah..
Hari ini aku menyibukkan diri di perpustakaan yang akau bangun dengan jerih payah. Dengan dasar sabar saja, aku dan mahasiswa bisa mewujudkan perpustakaan yang belum begitu aktif dan dikenal oleh mahasiswa-mahasiswa FKIP ini.
Hari ini aku menyibukkan diri di perpustakaan yang akau bangun dengan jerih payah. Dengan dasar sabar saja, aku dan mahasiswa bisa mewujudkan perpustakaan yang belum begitu aktif dan dikenal oleh mahasiswa-mahasiswa FKIP ini.
Sebutir debu (Magrib ke-4)
Mudah menghadapi suatu permasalahan tak semudah menyelesaikan persoalan batin tersebut. Apatah lagi soal hati yang begitu sulit untuk kita jangkau dengan akal sehat. Kehilangan orang yang paling kita sayang, harus menjadi kunci kesabaran kita kepada sang Khaliq.
Serahkan semua kepada Allah...
Kita tidak lebih besar dari sebutir debu yang kita sendiri, kecilnya seperti apa. Kenapa kita harus khawatir kalau Allah tidak bisa mengatur kita.
Kita sekarang cuma mengikuti jalan yang telah ditetapkan Allah. berada pada garis skenarionya yang sulit kita tebak Endingnya. Jalan yang kita punya terkadang lurus, terkadang bergelombang.
Ikhlaskan semua yang terjadi, karena sesulit apapun jalan berduri ranjau yang kita tempuh, akan ada hikmahnya.
Tetaplah bersemangat bersama tangkai garpu... karena sendok...menunggumu bersatu dalam piring itu...
Dukungan dari keluarga telah membuka mata ini tidak terlena dengan ujian hati yang susah untuk dipastikan. Waalau bagaimanapun. Aku berusaha menunggu Allah menjadikanmu milikku.
Ya Allah ya Latif... Ya Allah Ya Rahman..
Serahkan semua kepada Allah...
Kita tidak lebih besar dari sebutir debu yang kita sendiri, kecilnya seperti apa. Kenapa kita harus khawatir kalau Allah tidak bisa mengatur kita.
Kita sekarang cuma mengikuti jalan yang telah ditetapkan Allah. berada pada garis skenarionya yang sulit kita tebak Endingnya. Jalan yang kita punya terkadang lurus, terkadang bergelombang.
Ikhlaskan semua yang terjadi, karena sesulit apapun jalan berduri ranjau yang kita tempuh, akan ada hikmahnya.
Tetaplah bersemangat bersama tangkai garpu... karena sendok...menunggumu bersatu dalam piring itu...
Dukungan dari keluarga telah membuka mata ini tidak terlena dengan ujian hati yang susah untuk dipastikan. Waalau bagaimanapun. Aku berusaha menunggu Allah menjadikanmu milikku.
Ya Allah ya Latif... Ya Allah Ya Rahman..
Pendekap Jaket Hitam yang Halal
Seharian hujan. Tak muncul sekalipun raja siang. Hujan hari ini adalah suara hatiku yang terpuruk. Hujan melambangkan tumpahnya air mataku.
Aku tak suka hujan. Karena dingin akan menusuk seluruh jantungku. Apalagi dingin yang kini singgah di hatiku. Benar-benar membuat aku kacau.
Selara makan tak sedikitpun singgah. Kantuk matapun lari dari hidupku. Aku menjadi terasing dalam kesendirianku.
Keadaan yang begini membuat aku membutuhkan garpu yang biasanya memasangkan jaket hitam itu sambil mendekap tubuhku.
Bahkan jemari garpu itu menggenggam erat tanganku yang menggumpal.
Pemasang jaket hitam itu adalah sosok yang amat aku rindukan. Tapi dia tak boleh aku rindukan. Dia kini menjadi milik orang lain. Ya Allah... cobaan ini begitu berat. Apakah hamba terlalu cengeng.
Apakah salah hamba menginginkan tubuh yang kini nulai dimiliki oleh insan lain yang hampir terwujud dengan pernikahan. Ya Allah. Bagaimana aku bisa kuat, Jika sebentar lagi dia akan menikah dengan orang lain. Aku belum bisa ya Allah.
YA ALLAH..
Engkau adalah pembuat takdir. Satu pinta hamba.. hamba Membutuhkannya menjadi pemakai jaket yang halal dalam hidupku, menunggu waktu itu tiba. Amin.. Ya ALLAH... YA Rahman.. Ya Rahim.. Ya Allah Ya Latif.. Ya Allah Ya Syifa...Ya Allah Ya Latif.. Ya Alllah Ya Latif...
Aku tak suka hujan. Karena dingin akan menusuk seluruh jantungku. Apalagi dingin yang kini singgah di hatiku. Benar-benar membuat aku kacau.
Selara makan tak sedikitpun singgah. Kantuk matapun lari dari hidupku. Aku menjadi terasing dalam kesendirianku.
Keadaan yang begini membuat aku membutuhkan garpu yang biasanya memasangkan jaket hitam itu sambil mendekap tubuhku.
Bahkan jemari garpu itu menggenggam erat tanganku yang menggumpal.
Pemasang jaket hitam itu adalah sosok yang amat aku rindukan. Tapi dia tak boleh aku rindukan. Dia kini menjadi milik orang lain. Ya Allah... cobaan ini begitu berat. Apakah hamba terlalu cengeng.
Apakah salah hamba menginginkan tubuh yang kini nulai dimiliki oleh insan lain yang hampir terwujud dengan pernikahan. Ya Allah. Bagaimana aku bisa kuat, Jika sebentar lagi dia akan menikah dengan orang lain. Aku belum bisa ya Allah.
YA ALLAH..
Engkau adalah pembuat takdir. Satu pinta hamba.. hamba Membutuhkannya menjadi pemakai jaket yang halal dalam hidupku, menunggu waktu itu tiba. Amin.. Ya ALLAH... YA Rahman.. Ya Rahim.. Ya Allah Ya Latif.. Ya Allah Ya Syifa...Ya Allah Ya Latif.. Ya Alllah Ya Latif...
Ku Tetap Menanti (Nikita Wily)
Meski dirimu bukan milikku. Namun hatiku tetap untukmu
Berjuta pilihan di sisiku. Takkan bisa menggantikanmu
Walau badai menerpa... Cintaku takkan ku lepas
Berikan kesempatan untuk membuktikan
Ku mampu jadi yang terbaik ... Dan masih jadi yang terbaik
Ku akan menanti. Meski harus penantian panjang
Ku akan tetap setia menunggumu. Ku tahu kau hanya untukku
Biarlah waktu habis oleh penantian ini. Hingga kau percaya betapa besar cintaku padamu. Ku tetap menanti
Walau badai menerpa... Cintaku takkan ku lepas
Berikan kesempatan untuk membuktikan
Ku mampu jadi yang terbaik ... Dan masih jadi yang terbaik
Penantian Panjang...
Ku akan menanti
Meski harus penantian panjang
Ku akan tetap setia menunggumu
Ku tahu kau hanya untukku
Biarlah waktu habis oleh penantian ini. Hingga kau percaya betapa besar cintaku padamu. Ku tetap menanti
Penantian Panjang...
Ku akan menanti
Meski harus penantian panjang
Ku akan tetap setia menunggumu
Ku tahu kau hanya untukku
Biarlah waktu habis oleh penantian ini
Hingga kau percaya betapa besar cintaku padamu.
Ku tetap menanti
Penantian Panjang...
Meski dirimu bukan milikku
Namun hatiku tetap untukmu
Berjuta pilihan di sisiku. Takkan bisa menggantikanmu
Walau badai menerpa... Cintaku takkan ku lepas
Berikan kesempatan untuk membuktikan
Ku mampu jadi yang terbaik ... Dan masih jadi yang terbaik
Ku akan menanti. Meski harus penantian panjang
Ku akan tetap setia menunggumu. Ku tahu kau hanya untukku
Biarlah waktu habis oleh penantian ini. Hingga kau percaya betapa besar cintaku padamu. Ku tetap menanti
Walau badai menerpa... Cintaku takkan ku lepas
Berikan kesempatan untuk membuktikan
Ku mampu jadi yang terbaik ... Dan masih jadi yang terbaik
Penantian Panjang...
Ku akan menanti
Meski harus penantian panjang
Ku akan tetap setia menunggumu
Ku tahu kau hanya untukku
Biarlah waktu habis oleh penantian ini. Hingga kau percaya betapa besar cintaku padamu. Ku tetap menanti
Penantian Panjang...
Ku akan menanti
Meski harus penantian panjang
Ku akan tetap setia menunggumu
Ku tahu kau hanya untukku
Biarlah waktu habis oleh penantian ini
Hingga kau percaya betapa besar cintaku padamu.
Ku tetap menanti
Penantian Panjang...
Meski dirimu bukan milikku
Namun hatiku tetap untukmu
Yempak Jebik (bahasa suku Asli orang negrito)
Yek tu tom bateq... Ta si yem tu butoh tum. Hang jebik. so sai ke... Hmmm... So kirera... yem yempak mimpi burok.
Yek u ilaih tom. Tom ilaih mang lir yempak... CINTA...
yEK RUS PA laf... Yempak sa 03 Agustus 2011... Thanks Allah...
Yem Yempak jebik..
Yek u ilaih tom. Tom ilaih mang lir yempak... CINTA...
yEK RUS PA laf... Yempak sa 03 Agustus 2011... Thanks Allah...
Yem Yempak jebik..
Rabu, 03 Agustus 2011
Entah kenapa, aku tiba-tiba saja memasak jely malam-malam begini. Jam sudah menunjukkan pukul 23.46. Tapi aku begitu bernafsu memasak jely. Lalu aku menikmatinya.
Ternyata enak juga ya.... Aku beli banyak sih... Telah ku baca di internet... katanya jely itu sangat bagus jika dicampurkan dengan selasih. Untuk menghilangkan panah dalam. Mungkin gak ya
terlepas dari apa fungsinya.. sangat praktis cara memasak jely. Cuma tinggal tuangkan jely ke dalam panci bersama gula menurut selera kita. Lalu tambahkan air sesuai takaran yang tertera di kantong jely tersebut. Untuk pengetahuan kita bersama. Jely tu berbeda ukuran. Ada yang besar ada yang kecil. Aku baru tahu itu, kemarin ketika awal pertama puasa. Saat aku belanja di Planet.
Jely terdiri dari beberapa warna, Mulai warna kesukaanku.. hijau, coklat, Orange, Merah, kuning sampai ke warna favorit anak muda zaman sekarang yaitu warna unggu.
Rasa yang paling enak adalah yang berwarna ungu. Aku sendiri tak tau kenapa begitu. Hmmm...
Ingin saja aku bercerita tentang jely. Makanan yang kenyal-kenyal enak gitu....
Ternyata enak juga ya.... Aku beli banyak sih... Telah ku baca di internet... katanya jely itu sangat bagus jika dicampurkan dengan selasih. Untuk menghilangkan panah dalam. Mungkin gak ya
terlepas dari apa fungsinya.. sangat praktis cara memasak jely. Cuma tinggal tuangkan jely ke dalam panci bersama gula menurut selera kita. Lalu tambahkan air sesuai takaran yang tertera di kantong jely tersebut. Untuk pengetahuan kita bersama. Jely tu berbeda ukuran. Ada yang besar ada yang kecil. Aku baru tahu itu, kemarin ketika awal pertama puasa. Saat aku belanja di Planet.
Jely terdiri dari beberapa warna, Mulai warna kesukaanku.. hijau, coklat, Orange, Merah, kuning sampai ke warna favorit anak muda zaman sekarang yaitu warna unggu.
Rasa yang paling enak adalah yang berwarna ungu. Aku sendiri tak tau kenapa begitu. Hmmm...
Ingin saja aku bercerita tentang jely. Makanan yang kenyal-kenyal enak gitu....
Kentang goreng Kafe Andi
Ku ingin bercrita tentang sebuah kafe yang sangat memberi kesan kepadaku. Pertama kali aku sampai di tempat yang romantis ini, adalah bayang tentang ular.
kafe yang di genangi air ini sangat romantis. Tempat asalnya adalah sebuah rawa, oleh hasil kreatifitas, tempat yang bersebelahan dengan lampu Bandara ini dijadikan tempat bersantai.
Banyak makanan yang dijual. Mulai dari capcay, kwitiaw, nasi goreng berbagai perisa. Sungguh enaklah menikmati hidangan di situ.
Satu makanan yang paling berkesan di tempat ini adalah kentang goreng. Menu favoritku yang tak pernah bisa aku gantikan dengan makanan yang lain. Penuh kenangan setiap aku memakannya. karena ada tangan lain yang pernah menyuapkan kentang ke mulutku secara terus-menerus, bahkan beberapa potong sekali suap.
Entah kenapa saat aku begini, aku ingin sekali memakan makanan itu. Agar aku bisa mengobati luka yang melekat di hati ini. Sungguh tak bisa aku terpejam saat ini...
Kentang goreng...
kafe yang di genangi air ini sangat romantis. Tempat asalnya adalah sebuah rawa, oleh hasil kreatifitas, tempat yang bersebelahan dengan lampu Bandara ini dijadikan tempat bersantai.
Banyak makanan yang dijual. Mulai dari capcay, kwitiaw, nasi goreng berbagai perisa. Sungguh enaklah menikmati hidangan di situ.
Satu makanan yang paling berkesan di tempat ini adalah kentang goreng. Menu favoritku yang tak pernah bisa aku gantikan dengan makanan yang lain. Penuh kenangan setiap aku memakannya. karena ada tangan lain yang pernah menyuapkan kentang ke mulutku secara terus-menerus, bahkan beberapa potong sekali suap.
Entah kenapa saat aku begini, aku ingin sekali memakan makanan itu. Agar aku bisa mengobati luka yang melekat di hati ini. Sungguh tak bisa aku terpejam saat ini...
Kentang goreng...
Kau Memilih Dia (Mahkota)
Betapa Besarnya cintaku
Hingga ku takut kehilanganmu...
Tapi ternyata kau tak mampu menjaga hatiku demi dirinya
Salah apa aku padamu..
Hingga Kau tega menyakitiku
Kau tak pernah Ada habisnya menyiksa batinku
Lalu kau pergi
Ternyata kau memilih dia
Dan meninggalkan diriku
Ku harap
Aku selalu bersabar
Menerima semua
Betapa Besarnya cintaku
Hingga ku takut kehilanganmu...
Tapi ternyata kau tak mampu menjaga hatiku demi dirinya
Ternyata kau memilih dia
Dan meninggalkan diriku
Ku harap
Aku selalu bersabar
Ternyata kau memilih dia
Dan meninggalkan diriku
Ku harap
Aku selalu bersabar
Menerima semua
Menerima semua
Hingga ku takut kehilanganmu...
Tapi ternyata kau tak mampu menjaga hatiku demi dirinya
Salah apa aku padamu..
Hingga Kau tega menyakitiku
Kau tak pernah Ada habisnya menyiksa batinku
Lalu kau pergi
Ternyata kau memilih dia
Dan meninggalkan diriku
Ku harap
Aku selalu bersabar
Menerima semua
Betapa Besarnya cintaku
Hingga ku takut kehilanganmu...
Tapi ternyata kau tak mampu menjaga hatiku demi dirinya
Ternyata kau memilih dia
Dan meninggalkan diriku
Ku harap
Aku selalu bersabar
Ternyata kau memilih dia
Dan meninggalkan diriku
Ku harap
Aku selalu bersabar
Menerima semua
Menerima semua
Langganan:
Postingan (Atom)