Rabu, 12 Oktober 2011

Dr, Evi Suryawati




Perempuan yang berbaju biru itu adalah ibu angkatku...dia sangat baik....dari ceritanya aku mendapat falsafah hidup yang banyak. sesuai dengan pangkatnya Dr. mau ytau banyak tentang falsafah yang menarik....1. Kita ni sama-sama bekerja, tapi buykan bekerja sama. 2. kalau jadi orang miskin tak boleh bodoh. huh...sungguh mengesankan....Terima kasih buk evi..jadi motivatorku

Ayah

Ayah...

Aku rindu....

Izinkan aku memelukmu untuk hilangkan segala gundah yang ada.

Dia mengganggu hidupku. Dia menghinaku. Dia menyakitiku. Aku hanya bisa diam tanpa melawan. Diam tak bertepi saat disalahkan atas kesalahan yang tidak aku lakukan.

Ayah. Ingin aku tumpahkan semu ini agar aku tidak marah. Aku tak ingin terpancing emosi oleh cerita lama yang sudah usang. Cerita lama yang jadi sejarah dan telah kukubur dalam-dalam. Aku ingin sekali menemuimu, memelukmu agar bisa kau hapus air mata ini.

Ayah...

Dengarkan suara hatiku...

Selasa, 11 Oktober 2011

Nasrol Akmal

Setiap kali aku melihatnya, terbayang sebuah kenangan yang tak mampu aku ceritakan. Tapi ini suatu yang sangat aku hargai. Ketika aku tak lagi mampu tuk memapah hidupku yang kian tipis. Detik demi detik yang kian berakhir. Aku memang tak tau lagi mengenal arti hidup sebelum ini. Sejak aku divonis mengidap kangker payudara. 


Aku merasakan mati dan hidup tak berguna lagi. Kusembunyikan semua ini dari pengaetahuan orang-orang yang aku sayang. Kedua orang tua dan kekasihku tercinta. Aku bukan lari, Cuma aku tidak kuat saja dengan kenyataan ini. Banyak hal yang bisa mengajarkan aku akan hal untuk sabar. Orang pertama yang mengetahui keadaanku adalah dia. Itupun tak sengaja aku ucapkan. Siapapun dia, cukup aku dan dia yang tau. Dia menganggap aku seperti adeknya sendiri. dia sangat menyayangiku. Memang kurasakan itu dari cara dia menghormatiku. 

Dia sangat menjaga kesucianku sebagai adeknya. Aku sungguh terharu. Ternyata orang yang berpenyakitan seperti aku masih berharga. Aku masih bernilai mahal di matanya. Dia bisa meyakinkan aku bisa diselamatkan. Sebenarnya itu mustahil. Sangat mustahil. Tidak aku ceritakan apa penyebabnya. Tetapi lelaki yang sangat bangga dengan isterinya ini, meyakinkan aku bisa sembuh. Dari awal pertama S2, dia banyak membantu aku. Paling penting dia selalu menjadi tampat aku curhat tentang kuliah. Hal yang tak pernah bisa aku lupakan adalah uang RM 300 ringgit yang dia berikan. 

Padahal antara kami tidak kenal rapat ketika itu. Dia bilang “abang percaya adek.” Terus kenapa abang percaya adek? “kitakan punya feeling dek.” Uang itu aku gunakan untuk menambah pembayaran SPPku. Selebihnya ku peroleh dari titik peluhku bekerja di Rumah makan di Kuantan. Aku membiayai S2ku sendiri, tidak dari orang tua. Dia juga membantu meluluskan beasiswa S2ku. Aku dapat uang RP 30.000.000. Sungguh banyak. 

Orang yang pertama yang ku sms ketika itu adalah dia. Baru kedua orang tuaku. Aku tidak membalas kebaikannya dengan uang juga. Tapi dalam setiap doaku, ada Dia. “ku ingin dia selalu bahagia bersama anak dan istrinya.” Banyak kebaikan yang telah diberikan oleh orang yang sudah punya 2 orang anak ini. Satu yang menjadi alasannya “selagi anak Bengkalis, akan abang bantu.” Uang itu tak sepenuhnya aku belanjakan, ku beli secebis tanah. Ingin kutanam getah, dan hasilnya nanti bisa dinikmati oleh sepupu2ku yang lagi berkuliah. 30 % dari uang itu untuk sedekah. Banyak sisi miring yang aku dapat dari orang2 tentang dia. 

Tapi ku tepis semua itu. Karena dia tak pernah sekalipun jahat sama aku. Tapi apapun itu, Putih dan Hitam tetap sama bagiku. Setiap manusia yang lahir ada manfaatnya, setiap manuisa yang aku kenal adalah asset. Terima kasih bang, semoga suatu saat aku bisa membalasnya berlipat kali ganda. Amin….

Sahabat Karib (Hernita)

 
Hernita adalah salah satin rakan karibku. Kami berasal daripada kampung yang sama. Kami sama-sama Orang Miskin yang mempunyai hobi belajar. selain itu kami juga paling suka novel, Seni terutama menari. waktu SMA kami pernah menjadi pelatih tari zapin di Kecamatan Bantan. Sangat memberangsangkan, perempuan yang sudah menikah ini sangat tekun. Sobat...Kemiskinan kita...menjadi cermin bagiku untuk terus belajar dan belajar. Thanks..atas semangatmu...I Love U Full

Adek Angkat (Abu Hurairah)


Anak ini sebenarnya jenius. Tapi dia tak yalin aja dengan kejeniusannya. Lelaki yang sudah kuanggap adek ini selalu jadi tempat aku curhat tentang agama. Nasehat-nasehatnya sungguh bernas. Ia dia adek yang aku sayang. Berbanding teman-tamannya yang lain. Adek ini istimewa. 

Dia penyabar anaknya. Selain itu, dia sangat lugu. Sehingga dia sering diusilin oleh orang lain, termasuk aku. Tapi apapun itu, dia sangat baik. Dan sangat enak jadi tempat curhat. Semua masalah bisa kita ambil jalan tengah dengan berkongsi cerita padanya. 

Yah…..aku sangat bangga mempunyai adek seperti dia.  Pabila ku sudah tiada nanti. Kuingin dia tetap tumbuh menjadi anak yang shaleh, penyayang dan bisa membantu orang lain. ku inging dia tetap berjuang untuk agama Islam.  Adek….kak ingin adek ingin adek terus belajar dan belajar sambil mengajar. 

Terima kasih tuk semua kebaikan adek pada kak. RM 100 ringgi itu adlah kesan yang paling berarti buat kak..cukup kita berdua yang tahu yah…Senyum kak selalu buat adek…

EROTICISM IN MALAYSIAN AN INDONESIAN NOVEL: A STYLISTIC ANALYSIS


ABSTRAC
This study aims to identify the type, meaning and effect of the erotic that present in the novel Sutan Baginda written by Shahnon Ahmad (Malaysia) and a novel Ronggeng Dukuh Paruk by Ahmad Tohari (Indonesia). To achieve the objective, lexical erotic data is collected based on meaning relationship associated with the specific features, such as agriculture, maritime, physical, action, character, place and time. The theoretical framework used is a stylistic model by Leech dan Short (1993), which tend to focus on linguistic characteristic, aesthetics and style through description, interpretation and effect of erotic lexical category. Analysis of data indicates the different of erotic expression that caused by the creativity of both authors in choosing lexical erotic and lexical which contain eroticism based on literal and nonliteral meaning. The analysis proves that a serious novel that is created by the two authors meet erotic characteristics, due to sexuality expression hidden by the language of metaphor, delivery structure is only at introduction level, splash and unintend to raise libido. The results showed that Shahnon is more creative in express the eroticism because using seven lexical group, that is agriculture, maritime, physical, action, character, place and time than Ahmad Tohari who only using two lexical group, that is physical and action.

Kekaguman Persahabatan dalam Cinta

Kenapa kau menangis saat dikecewakan?  

Saat kau membayangakan dia begitu menyakitkanmu sobat? 

Itu kerana ….kita telah jatuh pada hamparan sesorang yang seia sekata dengan kita, berpeluh bersama dalam ikatan yang bertali cinta…….kita tidak rela melepaskan orang ini. 

Menanggalkan dia dari memory hidup kita. Tapi…ingatlah   sahabat…menanggalkan statusnya bukan demi kepentingan sahabat kita, bukan hujung dari cacatan mati seoarang  pencinta sejati…sadarilah sobat….itu episode awal sinetron indah yang bakalan kita reguk manisnya…kebahagiaan ada untuk kita yang telah menangis krn peghujatahanan relung hati darinya…untuk sobat yang menelkusuri, menggalai dan mencoba….karena kita adalah orang yang bisa memberi anugerah pada orang yang telah mengecup hati kita.. 

Sobat….cinta sejati adalah  ketika kita menggugurkan permata bening dari kelopakmu…tika disakiti…kita masih menantinya….saat dia mencuekkan hadir sobat…sobat masih menunggu setia… ketika dia mencintai…sahabat terbaik kita….seyuman mekar mempesona dari di bibir kita seraya berucap…”semoga kalian berbahagia…” 

Berucapalah sobat…..aku bahagia…spontanitaskan dari sudut kecilmu yang terdalam…kepakkan sinyalir sayap yang indah paruhnya…..katakan pada dunia…aku tak akan mati meski cintanya telah terampas. Orang yang berhasil adalah orang yang bangkit takkala disakiti, dan berusaha menghilangkannya dengan perasaaan kasih dan sayan. 

Pelajarilah bahawa kamu adalah orang beruntung….karena mencintai bukan bagaimana kamu melupakan tetapi adalah…memaafkan. Berkorban untuk sahabat adalah mulia …kawan…i miss you….tuk semua sahabatku…

Jangan Menyerah

Dear diary 
 
Kata marah, benci, kesal semuanya tidak dapat aku luahkan di diari kecilku yang mungil. Kenapa harus seperti ini? Satu pertanyaan yang sukar untuk dicari jawabanya. Aku mengimpikan hidup senang, kaya, dan bisa hidup bahagia. Aku tidak perlu membanting tulang untuk mengecam ilmu pendidikan. Tapi impian tidak mudah jadi kenyataan. Itu jawaban yang ku terima dan harus ku telan untuk saat ini. 
 
Ah.......... Sukar memang jika dilafaskan, kisah suka dan duka yang mengantongi jalan hidupku saat aku menempuh perkuliahan. Jalan hidup itu memang tidak bisa mulus selamanya. Tapi bagi aku yang mengalami tidak terlalu kuambil pusing kok. Yang penting aku jalani aja. Yaaaa namanya hidup. Pasti ada suka dan dukanya.   PDU 29 JUNI 2004     Aku tidak lulus dalam prites. Sebagai Mahasiswa PBUD yang tidak lulus prites, kami harus mengikuti matrikulasi. Mata kuliah yang kuambil adalah Matematika, Ekonomi, dan Pancasila. Aku masuk Mata Kuliah matematika.     Aku grogi. Sampai-sampai aku tak bisa jawab pertanyaan dengan benar. Ketika itu aku di tanya ”7*6 berapa ?” sepele kan. Tapi kok aku jawab 32 ya. Kenapa?     Aduh hari pertama aku bertemu dengan yang namanya dosen. 
 
Pak Zulfanam Ritonga. Kasar dengan logak bataknya. Tambah lagi kumisnya yang melenting. Alamak, mati aku. Kalau sepuluh dosen seperti ini.     Malunya setengah mati, masak segitunya. Padahal aku tamatan IPA. Sebenarnya gini, aku bisa jawab. Tapi mentalku ini yang salah. Aku tidak melatihnya waktu di SMA dulu. Perasaan grogi yang sangat menaik tiba-tiba membuat darahku terasa mengalir deras. Keringat dinginku sepertinya bercucuran di lantai. Memang aku seram saat memandang dosen yang berwajah sangar dan berkepala botak itu.     
 
Kuliah.......tiada lagi canda tawa yang kurasakan saat ini. Bukan kata kerjakanlah yang biasa kudengar dari bapak dan ibu guru SMA N 1 Bantan dulu. Tapi apa yang harus aku kerjakan ya. Jawaban yang pasti adalah cari sendiri. Jawab sana terserah kamulah. Dari hati kecilku ada bisikan yang selalu membuat aku untuk belajar. Cari sendiri kamu pasti bisa. Disini tak ada Ine dan Nana teman belajar kelompokmu.    
 
Teman-teman baru yang aku kenali sangat akrab seperti Yulia Sofa, Munika Fitriyana, Suliati, Novi, Ana, Putri, Harles, Septo Divo, Mamet, Asmar, Awerpan, Jhon Hendri, Wati, Fahrul Razi, Syafrizal, Deryy, dan yang lucunya ada yang nama panggilannya sama denganku “OJI.      Nyantai aja lagi. Apalah arti sebuah nama. Jika ada teman yang usil mengukku dengan nama itu, aku hanya membalas dengan canda. Kami kembar lain ayah beda ibu. Kami satu suku dua pusat. Waktu kecil kami dipisahkan oleh mayat besar. 
 
Kemudian aku berlalu dengan menyunggingkan sedikit senyum yang tak mengharap balas.  Swadarma Agutus 2004     Yang aku rasakan di pagi yang redup ini hanyalah kesunyian yang begitu mencekam. Aku begitu merindukan sahabatku Siti Ratna dan Hernita. Biasanya setelah selesai upacara perpisahan kelas dan pembagian lapor kami pergi ke pantai Selatbaru indah. Kami berteriak tanpa ada yang menghalangi jalan keluarnya suara kami. Kami luahkan aja apa yang kami rasakan saat itu. Sehingga perasaan stress akibat tugas yang banyak bisa hilang dengan teriakan tanpa malu.     
 
Kami mengaggap masalah yang ada di otak kami, hilang di telan ombak atau terbang dibawa angin. Benar nggak sih? tapi itu hanya kepercayaan sementara yang kami punya. Jika ada pertanyaan tentang itu kami hanya tertawa.         Ketawa, menangis, canda yang biasa tiap hari aku lihat. Kini tidak ada lagi. Keakraban persahabatan kami terpisah oleh cita-cita yang ingin kami capai saat ini. Dulu, masalah satu adalah masalah semua, ceria satu ceria semua, menangis satu menangis semua. Beda cita-cita lah yang telah mencampakkan aku ke pekanbaru ini.     
 
Kini............. Aku benar-benar ingin bercanda dengan mereka. Makan MI SAKURA mentah yang berharga Rp 500. itulah yang menjadi makanan paporit kami ketika sudah selesai kerja kelompok. Tak kira pr kimia, fisika, matematika, buat Laporan Kunjungan tugas mata pelajaran bahasa Indonesia, atau PR apa sajalah. Aku ingin ketemu mereka, aku rindu masa-masa itu. Kapankah masa itu akan kembali. Andai aku bisa menambahkan waktu yang ada, ingin ku sisakan untuk mereka. Jika aku bisa membalikkan waktu yang telah pergi meninggalkan aku ingin ku bersama mereka tuk buat apa saja yang bisa hilangkan dukaku.  Mungkainkah masa ini akan terulang lagi? Apakah aku harus kehilangan mereka untuk selama-lamanya. Aku tak tau itu. Yang jelas saat ini aku hanya bisa tatap foto yang terletak di jantung bingklai biru itu. Aku tak mau kehilangan mereka, aku sangat menyayangi mereka.      
 
PDU 2004     Aku melihat wisudanya mbak Neng. Aku ketemu abangnya Toni. Dia langsung bilang tentang Mualim anak Resam. Mantanku waktu SMA. Aduh, rasanya ada petir yang menyambar di telingaku ketika terdengar nama itu. Kamal mantan pacar yang aku tinggal dulu katanya sudah menikah. Lantaklah     Aku kembali ke PDU, aku ngobrol dengan Harles. Tak lama kemudian ojik dan teman-teman datang menghampiri kami. Rupanya ada tulus juga. Gimana ya? Suasana hening aku tiba-tiba nyayi  ”yang aku mau  kau belajar  tuk cintai aku   tulus dan apa adanya.     Tiba-tiba ojik langsung bilang ”tulus dia tu suka ama kamu” tanpa rasa bersalah aku langsung bila ”ia, emang kenapa? Nggak boleh?” Mereka pikir aku benaran suka lagi sama Tulus. Padahal aku Cuma bergurau. 
 
Tembang yang aku nyanyikan itu adalah tembang kenangan aku bersama sahabat karibku sekaligus  orang yang pertama aku cintai Aly. Meskipun aku pernah pacaran sejak SD kelas 5 lagi dengan Mizi. Lagu kenangan itu keluar dari celah bibir kami saat mengikuti kegiatan JUMBARA, “Jumpa Bakti Gembira” di Dumai. Aku dan Aly saat itu mengikuti wiasata kota bersama orang Caltex, mengelilingi kota minyak itu. kami bernyayi di tepi kolam, yang kononnya pernah terjadi pembunuhan. Itu hanyalah cerita lama.     
 
Dosen. 
 
Mendengar nama itu saja aku sangat bahagia. Melihat Dosen aku jadi ingin seperti mereka. Dari cara berpakaian mereka terlihat selalu rapi. Penampilan mereka membuat aku tertegun. Aku menggantungkan cita-citaku untuk menjadi dosen. Anganku melayang, terbang entah kemana. Aku tak tau kenapa. Mungkin kah bisa kuraih cita-cita itu, dimasa akan datang. Aku yang telah meninggalkan persahabatan demi sebuah cita-cita  ini, yak mungkin menyia-nyiakan kesempatan yang ada. 
 
Tidak sedikitpun aku biarkan keuntungan berlalu tanpa melekat padaku. Aku tak mau ia hanya mimpi yang indah dalam lena.     Hari ini aku terlambat. Lalu dosen yang bersangkutan tidak mengizinkan aku masuk. Aku di suruh keluar tanpa ada toleransi sedikitpun. Aku sakit hati. Akhirnya aku keluar tanpa keikhlasan hati. Mahasiswa tidak ada yang berani berkata, takut nilai terancam.     
 
Memang sih nilai tidak menjamin kepintaran seseorang. Tapi yang punya IPK 4 selalu dianggap orang hebat. Ia lah negara kita saja selalu mengutamakan akademis. Untuk apa kuliah jika tak mampu dapat IPK diatas tiga. Tapi kehidupan di bangku perkuliahan itu sangat menarik.  Berkaitan dengan nilai. Banyak kisah yang terjadi. Aku dan teman-teman menghadapi pengalaman yang berbeda dengan nilai. 
 
Teman-teman satu angkatan selalu mengaanggap diriku orang pandai. Padahal aku tidak sepandai yang mereka sangkakan.  Pujian yang selalu mereka lontarkan selalu ku aminkan lalu ku balas dengan senyum seraya berdoa “semoga kami semua menjadi orang pintar.” Dari semester satu, aku selalu menjadi pemegang IPK tertinggi. 
 
Satu-satunya orang yang pernah mengalahkan aku adalah Asmar. Anak Taluk Kuantan. Dia memang pintar. Akan tetapi dia agak lambat dan berhati-hati. Aku sedikit lebih tegas dari dia meskipun aku seorang perempuan.  Aku bangga sama dia. Dan aku benar-benar salut sama dia. Karena dia ada di kelas aku selalu terpacu untuk belajar. Sekali aku kalah dengan dia, saat aku semester tiga. Pada mata kuliah menulis. 
 
Kali pertama aku mendapat nilai terburuk sepanjang kuliahku. Aku dapat nilai “C”. Teman-teman semua pada protes pada dosen tersebut. Masih ku ingat salah satu dari mereka berkata saat menemui dosen itu “Buk kenapa Roziah dapat C? dia yang paling pintar di kelas kami. Menulis lagi. Dia pemenang lomba cerpen dib alai pustaka kemaren. Kok dia dapat C.” Saat aku benar-benar tidak percaya kenapa aku dapat C. tapi kau diam saja. Ku imbas lagi peristiwa sepanjang aku belajar sama beliau. Aku pernah memprotes ajarannya tentang teori menulis. 
 
Dia berkata buat korangka tulisan dulu. Lalu tulis sesuai dengan kerangka. Lalu aku bicara. “buk itu teori lama buk” “gak, masih di pakai” “ia buk emang masih dipakai. Seiring berjalannya waktu semua ada perubahan. Ide tak pernah bisa di batasi. Kata penulis terkenal ‘Ahmad Tohari’ dalam pertemuan Konggres Cerpen Indonesia 2005 kemaren, beliau berkata ‘Tulis apa yang mau kau tulis. Jangan tentukan awalnya. Tapi mulai, tak perlu terlalu mengikut kerangka tulisan karena dia akan membatasi ide kreatifitas kita’ beliau pernah mengatakan demikian pada semua teman yang terpilih kemaren ada yang ingat.  Lalu aku bertanya pada seniorku. “Ibu itu tak suka diprotes, siap-siap ajalah dapat C.” Wah. Ini gak adil. Aku tidak mau protes. Entah kenapa aku yang terkenal dengan kritisnya, tiba-tiba jadi diam saja. Teman-teman pada heran. Aku berpikir saat itu “semua ini pasti ada hikmahnya.”

Rabu, 05 Oktober 2011

Rindu Pujy n Bapaknya


Rasa tak kangen tak terungkapkan kepada adekku tersayang. Dia kini jauh dari fisikku. Tapi dia selalu ada di hatiku. Ku tahu kenapa dia pindah dari rumah. Ku tahu dia begitu merindukan Bapaknya. Orang yang sangat menyayanginya selama ini. Tapi orang itu tak bisa lagi kami gapai. Dia sudah menjadi milik orang lain.

Terkadang kami ingin kembali ke saat itu. Tapi tak pernah bisa.... selalu saja gagal.

Ya Allah... Pertemukanlah kami dalam Rhidomu. Cinta dan kasih sayang yang kami miliki adalah titipan dari-Mu. Berikan kami peluang tuk mencairkan kebekuan yang ada dalam hati kami. Kami rindu

Rindu...

Rindu...

Rindu...

Kak Sayang Adek. Kak sayang Bapak.

Selasa, 04 Oktober 2011

Keletah Wanita Melayu 8

La-Tahzan... Ketika anda sudah melakukan semua kewajiban anda, akan tetapi anda masih dianggap tidak loyal walaupun 18 jam dari 24 jam anda korbankan untuk itu, hingga anda tak sempat pergi ke tempat yang anda ingin pergi... Percayalah... Allah tahu apa yang anda kerjakan. Ikhlaskan saja, kelak anda akan merasa bahagia.
Itlah yang bisa aku pesankan kepada semua pembaca blogku. Saat anda dikatakan tidak loyal oleh pimpinan anda, gak usah bersedih. Lupakan saja! Anggap saja itu adalah kekutan yang harus anda gunakan untuk menyalamatkan kehidupan anda di hadapan Allah.
Kita harus bebas. Tak usah takut berkarya. Jangan takut mengahadapi persoalan hidup yang hanya sementara. Toh sebentar lagi kita akan mati. Entah mati karena memang sudah ajal atau kesengajaan kia yang membuat hati kita mati. 
Semuanya serahkan kepada Allah saja. Allah Maha tahu apa yang berlaku saat ini. Jangan takut sama ancaman manusia. Tak perlu takut dengan kekuasaan yang menjadikan kita tidak bebas. Jadilah manusia yang bebas dari beratnya hati. Laksanakan tanggung jawabmu.

Foto Rumahku

Ku Perhatikan baik-baik foto dua orang yang dulu pernah menjadi kekasih, di cermin kamarku.

Foto itu adalah kenangan bersama orang yang paling aku sayang. Stiap aku pulang kerja, aku sempatkan diri untuk menyentuh pipinya, sesekali menciumnya. Hanya itu yang mampu aku lakukan untuk mengobati rindu yang telah dibekali Allah ini.

Aku tak pernah menyesali keadaan aku saat ini. Bukan aku tidak realistis. Aku bisa menjalani kerjaku. Menyelasaikan persoalan-persoalanku. Termasuk ikut membantu keuangan tetanggaku.

Aku masih tersenyum dan bersemangat menjalani semua ini.

Apakah salah jika aku masih mencintainya seperti dulu?

RUANG MASALAH

Tak percaya... Aku masih tersenyum walau aku tak menemukan orang yang paling aku sayang di segala sudut ruangan yang aku intari setiap hari kerjaku. Aku bahagia saat merindukannya. Kurasakan dia ada di setiap ketiadaannya. 

Ketiadaanya hanyalah wujud. 

Ingin kuberpesan pada angin untuk membisikkan ke telinganya bahwa aku merindukannya. Aku yakin angin sangat amanah menyampaikan pesanku. Bisikkan juga padanya yang di ujung sana.. Meskipun Pangeran Syurgaku tak bisa kujamah dengan mata, tak mampu kujilat dengan telingaku, ku masih setia di situ, di sudut rumah itu menunggunya. Di sudut rumah yang pernah ingin kuciptakan "RUANG MASALAH" yang ketika itu tidak disetujuinya.

Kelak.. dia pasti tahu kenapa aku menciptakan ruang itu. Meskipun aku belum sempat menyampaikan maksudku yang sesungguhnya. Tapi aku yakin di sana dia berpikir kenapa aku menciptakan itu.

Inilah rasa yang aneh. Tak memiliki tatap membuat hati ini bahagia karena mencintainya. Ketika orang-orang sekeliling menganggapnya kejam saat ku jawab "Al-hamdulillah. Dia sudah menikah" untuk semua tanya tentangnya. Aku tak pernah sependapat dengan mereka yang menyalahkan Daun. Bagiku dia tak bersalah. Aku yang tak bisa menjadi TERBAIK dipilih Allah untuk memilihnya secara fisik. Aku yakin, Allah tidak akan marah ketika aku masih mencintainya lewat doa-doa shalatku yang terselip tangis.

Aku masih bahagia, karena Allah selalu mengingatkan pikiran ini padanya, hingga aku tak pernah lupa denganya walaupun aku tak pernah melihatnya lagi.  Jika RUANG MASALAH sudah jadi, tentu aku singgah ke situ.


Senin, 03 Oktober 2011

Dia Masih ingat padaku

Tak percaya dia masih ingt denganku. Allhamdulillah... Makasish ya Allah, Makasih Kanda....

Suara telphonenya menjadi syifa. Menjadi air untuk kehausanku yang berpuluh tahun...

Sabtu, 01 Oktober 2011

Keletah Wanita Melayu 7 (Dialog Emak dan Anak)

Setelah semalaman aku puas menangis mengadukan semua rindu pada ibuku. Hanya pada ibu tempat aku mengadu saat ini. Mencurakna segala penat. Meluangkan segala beban yang ada di pundakku saat ini. Aku ingin melupakan kehancuran hati ini akibat ketidak hati-hatiannya menuliskan status FBnya yang sangan meluluhlantakkan hatiku semalam.

Semua salahku kok. berani melihat FBnya. Berasal karena rindu yang tertumpu dan sudah tak tertahankan

Setelah bercerita dengan Emak, aku bisa bernafas lega. Menciumi harumnya nafas udara pagi ini.

Aku harus bersemangat demi Emakku.

Doakan anakmu ini baik-baik saja di sini. Saat hidup masih memberi  kesempatan. Jangan Emak menangis karena beban hati yang anak pikul hari ini.

Percayalah...

Impianmu untuk memenantukan Daun selama ini akan terwujud. Akan kucoba untuk bertahan hingga ke akhir hayat ini. Ku tak akan memaksanya yang kini lagi berbahagia. Biarlah dia menikmati indahnya pernikahan. Kelak jika dia membutuhkan diri ini, maka diri ini akan bersedia membantunya. Ku tak mungkin merampasnya, meskipun seribu cara bisa ku gunakan, Tapi biarlah dia bahagia. Emak.. Dia bukan milikku lagi. Meskipun emak berbangga hati ketika bersalaman dengannya dan berjamaah dengannya. Percayalah.. Emak sudah dianggap ibu olehnya kemarin, saat ini dan selamanya.

Maaf jika anakmu belum bisa menggantikan sosok Daun di hati ini. Pernah mencoba, Tapi terlalu sulit untuk dilaksanakan...

That is your woman! Mario Teguh

JANGANLAH MEMIMPIKAN wanita cantik jelita yang gemerlap dengan perhiasan, yang seleranya canggih dan modern, super cerdas, gemulai bak guru keanggunan pribadi, yang harum tubuh dan rambutnya merasuk sukma, yang suaranya berorkestra dengan gemericik parit-parit surga, yang hatinya lembut dan peka, yang senyum dan wajahnya memendarkan sinar bulan, dan yang langkahnya lembut dan terukur seperti endap...an harimau lapar.

Ooh … jangan coba-coba ya?

Itu adalah wanita berbiaya dan berpemeliharaan tinggi.

Dan hampir tidak mungkin ia bisa kau harapkan ada di rumah saat kau pulang.

Nikahilah wanita sederhana yang membuatmu membenci dirimu sendiri karena meninggalkannya di rumah, bekerja keras untuk membahagiakannya, dan pulang dengan kerinduan untuk dimanjakannya dalam penerimaan yang ikhlas mengenai apa pun dirimu.