Ku ingin bercrita tentang sebuah kafe yang sangat memberi kesan kepadaku. Pertama kali aku sampai di tempat yang romantis ini, adalah bayang tentang ular.
kafe yang di genangi air ini sangat romantis. Tempat asalnya adalah sebuah rawa, oleh hasil kreatifitas, tempat yang bersebelahan dengan lampu Bandara ini dijadikan tempat bersantai.
Banyak makanan yang dijual. Mulai dari capcay, kwitiaw, nasi goreng berbagai perisa. Sungguh enaklah menikmati hidangan di situ.
Satu makanan yang paling berkesan di tempat ini adalah kentang goreng. Menu favoritku yang tak pernah bisa aku gantikan dengan makanan yang lain. Penuh kenangan setiap aku memakannya. karena ada tangan lain yang pernah menyuapkan kentang ke mulutku secara terus-menerus, bahkan beberapa potong sekali suap.
Entah kenapa saat aku begini, aku ingin sekali memakan makanan itu. Agar aku bisa mengobati luka yang melekat di hati ini. Sungguh tak bisa aku terpejam saat ini...
Kentang goreng...
Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. (Muhammad: 37)
Rabu, 03 Agustus 2011
Kau Memilih Dia (Mahkota)
Betapa Besarnya cintaku
Hingga ku takut kehilanganmu...
Tapi ternyata kau tak mampu menjaga hatiku demi dirinya
Salah apa aku padamu..
Hingga Kau tega menyakitiku
Kau tak pernah Ada habisnya menyiksa batinku
Lalu kau pergi
Ternyata kau memilih dia
Dan meninggalkan diriku
Ku harap
Aku selalu bersabar
Menerima semua
Betapa Besarnya cintaku
Hingga ku takut kehilanganmu...
Tapi ternyata kau tak mampu menjaga hatiku demi dirinya
Ternyata kau memilih dia
Dan meninggalkan diriku
Ku harap
Aku selalu bersabar
Ternyata kau memilih dia
Dan meninggalkan diriku
Ku harap
Aku selalu bersabar
Menerima semua
Menerima semua
Hingga ku takut kehilanganmu...
Tapi ternyata kau tak mampu menjaga hatiku demi dirinya
Salah apa aku padamu..
Hingga Kau tega menyakitiku
Kau tak pernah Ada habisnya menyiksa batinku
Lalu kau pergi
Ternyata kau memilih dia
Dan meninggalkan diriku
Ku harap
Aku selalu bersabar
Menerima semua
Betapa Besarnya cintaku
Hingga ku takut kehilanganmu...
Tapi ternyata kau tak mampu menjaga hatiku demi dirinya
Ternyata kau memilih dia
Dan meninggalkan diriku
Ku harap
Aku selalu bersabar
Ternyata kau memilih dia
Dan meninggalkan diriku
Ku harap
Aku selalu bersabar
Menerima semua
Menerima semua
Doa' Puasa ke-3
Terima Kasih Ya Allah, Terima Kasih Dalaf.
Aku masih bisa menulis tentangmu. Mungkin ini goresan terkahirku untukmu. Aku bahagia mengenalmu walau sebentar.
Kekosongan ruang yang sepakat kita namakan lobi, kini menjadi tempat kenangan yang utuh tentang dirimu. Setiap sudut kita lewati berdua dengan canda dan tawa. Coret-mencoret setiap jika kalah main batu lacak. Tempat yang menjadi saksi saat pertama kita saling shalat berjamaah, kini harus aku hadirkan sebagai kenangan.
Banyak cerita indah yang kita lewati.
Tak ada satupun hal yang harus aku sesali. Aku Ikhlas tidak kau pilih menjadi pendamping hidupmu di dunia ini. Dunia yang sebentar lagi akan aku tinggalkan.
Jujur...
Aku bisa bertahan dan bersemangat hidup karena Allah menghadirkan dirimu di akhir perjalananku. Allah berikan aku nafas bahagia dari kehadiranmu. Kini Allah mengambilnya kembali.
Aku TERJATUH.
Tapi kejatuhanku kali ini, sangat parah. Karena Aku MEMILIHMU.
Aku akan bangun sendiri. Tak ada yang membangunkan aku. Tak ada uluran tangan yang menarikku.
Kandaaaaaa....
Gelas...
Garpu...
Sendok...
Nasi...
Kuah...
Lauk....
Ya Allah... Ku titipkan CINTA ini kepada-MU. Aku ingin besok tersenyum....
Maafkan Dinda ya Kanda... Semoga Kanda bisa bahagia bersama Meysa Putia. Tak ada yang lebih penting, selain kebahagiaan Kanda...
Aku masih bisa menulis tentangmu. Mungkin ini goresan terkahirku untukmu. Aku bahagia mengenalmu walau sebentar.
Kekosongan ruang yang sepakat kita namakan lobi, kini menjadi tempat kenangan yang utuh tentang dirimu. Setiap sudut kita lewati berdua dengan canda dan tawa. Coret-mencoret setiap jika kalah main batu lacak. Tempat yang menjadi saksi saat pertama kita saling shalat berjamaah, kini harus aku hadirkan sebagai kenangan.
Banyak cerita indah yang kita lewati.
Tak ada satupun hal yang harus aku sesali. Aku Ikhlas tidak kau pilih menjadi pendamping hidupmu di dunia ini. Dunia yang sebentar lagi akan aku tinggalkan.
Jujur...
Aku bisa bertahan dan bersemangat hidup karena Allah menghadirkan dirimu di akhir perjalananku. Allah berikan aku nafas bahagia dari kehadiranmu. Kini Allah mengambilnya kembali.
Aku TERJATUH.
Tapi kejatuhanku kali ini, sangat parah. Karena Aku MEMILIHMU.
Aku akan bangun sendiri. Tak ada yang membangunkan aku. Tak ada uluran tangan yang menarikku.
Kandaaaaaa....
Gelas...
Garpu...
Sendok...
Nasi...
Kuah...
Lauk....
Ya Allah... Ku titipkan CINTA ini kepada-MU. Aku ingin besok tersenyum....
Maafkan Dinda ya Kanda... Semoga Kanda bisa bahagia bersama Meysa Putia. Tak ada yang lebih penting, selain kebahagiaan Kanda...
Selasa, 02 Agustus 2011
Berharap
Sayang.. Hatiku ingin memelukmu...
Hatiku ingin menciummu... Tapi demi sucinya niat hati ini... semua itu tak kan aku lakukan.
Aku hanya bisa menangis jika mengingat semua kebaikanmu padaku. Aku bahagia dan kadang tertawa dalam setiap uraian air mata yang membasahi pipi ini.
Sayang ketahuilah aku mencintaimu karena Allah...
Kuberharap pada Allah, semoga Allah menjodohkan kita ber2
Hatiku ingin menciummu... Tapi demi sucinya niat hati ini... semua itu tak kan aku lakukan.
Aku hanya bisa menangis jika mengingat semua kebaikanmu padaku. Aku bahagia dan kadang tertawa dalam setiap uraian air mata yang membasahi pipi ini.
Sayang ketahuilah aku mencintaimu karena Allah...
Kuberharap pada Allah, semoga Allah menjodohkan kita ber2
Doa Puasa ke2
Pilihan itu sulit untuk kau lakukan. Tapi aku mendukung setiap pilihanmu meskipun aku bukanlah pilihanmu. Aku mencintaimu karena Allah menganugerahkan rasa itu dalam hatiku. Jika sekarang Allah memintamu untuk membuat sebuah keputusan yang besar, maka harus kau terima itu.
Yang terpenting bagiku dirimu ada saat keluargamu meginginkanmu. Itulah menyebabkan aku kuat menghadapi semua ini. Aku manusia yang bisa menggunakan logikaku.
Ya Allah... Hanya Engkau zat yang Maha Tahu betapa hamba mencintai Dalaf. Lebih dari hamba mencintai diri hamba sendiri. Tak ada yang bisa mengerti itu. Pimpinanku, Kak Ema, Keluarganya juga tak bisa mengerti. Tapi hamba tahu hanya Engkau yang mengeti semua ini.
Doa Hamba di dini hari puasa ke2 ini adalah Semoga Engkau memberikan yang terbaik buat dirinya dan keluarganya.
Aku membutuhkan Dalaf menjadi suamiku kelak. Tapi Engkau punya rencana lain yang lebih hebat. Hamba yakin rencana-Mu adalah rencana terbaik untuk hidupnya dan hidupku karena Engkaulah yang memberikan kami hidup
Cerita dari Siti Zubaidah
Wanita berkulit hitam manis ini adalah mahasiswaku. Umurnya sih sama denganku. Tapi beliau masih berusaha menyelesaikan S1nya. Dia termasuk salah satu mahasiswa bimbinganku. Dia rajin dan bersungguh-sungguh. Aku tak tau mengapa, ada seorang dosen yang begitu marah dengan ni anak. Kata dosen itu, dia sudah membimbing anak ini selama tiga bulan. Tapi kenapa pas seminar proposal pembimbingnya lain.
Aku hanya bisa menelan ludah, ketika dosen itu marah-marah padaku. Hanya berharap lindungan Allah saja. Tak ada satupun yang membelaku. Malah ada yang mengancam tak akan membimbing jika masalah ini terjadi.
Aku sudah melakukan tugasku. Sebagai Ketua Prodi. Aku menjalankan perintah pak Dekan untuk membimbing anak ini. Kebetulan Pembimbing I dia adalah Pak Dekan. Aku tak mungkin tidak melakukan perintah yang menurutku sangat mudah untuk aku lakukan.
Tapi mungkin kata-kata Dalaf itu benar. Aku tak menimbang perasaan ketika menjalankan perintah dekan tersebut. Toh kembali lagi aku harus menyalahkan diri sendiri. Andai saja berada pada posisiku saat ini, apa yang akan kalian lakukan?
Dengan segenap hati, aku meminta maaf kepada dosen tersebut. Tak kulihat senyum di wajahnya. Ya memang dia marah padaku. Aku sendiri berlalu darinya. Ntahlah. mungkin caraku salah. Ketika orang tak memberiku maaf, aku akan berlalu begitu saja.
Hari ini, aku mendengar semua cerita dari mahasiswanya langsung, mengapa hal ini terjadi. Ternyata dosen tersebut tidak pernah membaca skripsinya. Jadi tak salah jika aku menjalankan perintah pak Dekan. Memang bijaksanalah pak dekan itu dengan keputusannya kali ini. Aku mendengar banyak hal tentang kasus anak ini. Menjadi tantangn bagiku dalam bekerja kelak.
Allah.. Kuatkan pikiran dan hati hamba untuk membantu mahasiswa ini. Hanya pada-Mu hamba berharap.
Aku hanya bisa menelan ludah, ketika dosen itu marah-marah padaku. Hanya berharap lindungan Allah saja. Tak ada satupun yang membelaku. Malah ada yang mengancam tak akan membimbing jika masalah ini terjadi.
Aku sudah melakukan tugasku. Sebagai Ketua Prodi. Aku menjalankan perintah pak Dekan untuk membimbing anak ini. Kebetulan Pembimbing I dia adalah Pak Dekan. Aku tak mungkin tidak melakukan perintah yang menurutku sangat mudah untuk aku lakukan.
Tapi mungkin kata-kata Dalaf itu benar. Aku tak menimbang perasaan ketika menjalankan perintah dekan tersebut. Toh kembali lagi aku harus menyalahkan diri sendiri. Andai saja berada pada posisiku saat ini, apa yang akan kalian lakukan?
Dengan segenap hati, aku meminta maaf kepada dosen tersebut. Tak kulihat senyum di wajahnya. Ya memang dia marah padaku. Aku sendiri berlalu darinya. Ntahlah. mungkin caraku salah. Ketika orang tak memberiku maaf, aku akan berlalu begitu saja.
Hari ini, aku mendengar semua cerita dari mahasiswanya langsung, mengapa hal ini terjadi. Ternyata dosen tersebut tidak pernah membaca skripsinya. Jadi tak salah jika aku menjalankan perintah pak Dekan. Memang bijaksanalah pak dekan itu dengan keputusannya kali ini. Aku mendengar banyak hal tentang kasus anak ini. Menjadi tantangn bagiku dalam bekerja kelak.
Allah.. Kuatkan pikiran dan hati hamba untuk membantu mahasiswa ini. Hanya pada-Mu hamba berharap.
Senin, 01 Agustus 2011
Memeluk Magrib ke2 Ramadhan
Aku menyukai Magrib kedua bulan Ramadhan Tahun 1423 ini. Kesukaan lebih daripada tomat hijau atau kepiting saos tiram yang selama bertahun menjadi menu favoritku. Aku menyukai Magrib ini seperti aku menyukai rotiboy yang malam kemarin dibelikan Dalaf untukku. Memang sukaku pada Magrib ini tak seperti aku menyukai wajah kekasihku yang putih bersih dan tampan itu. Aku jatuh cinta pada Magrib lebih dulu sebelum aku jatuh cinta pada Dalaf ketika kini dia datang ke pelukanku. Jujur saja sesekali aku merasa lebih nikmat bercinta dengan Magrib dibandingkan bercengkrama dengan kekasih hatiku Dalaf. Aku meresa lebih memiliki dan menikmati ciuman lembut bibir Magrib, apalagi pada saat sendiri seperti ini.
Bagiku Magrib kali ini sebagai tanda dari penanda yang ada dalam estetika sastra melepaskan siang Ramahadhan yang begi sesetengah Umat amat melelahkan karena tak bisa makan dan minum. Magrib ini menjamah tubuhku dengan romantic. Keromantisan perpisahan melepas raja siang menelan kekerdilan umat tempat bertafakur. Kehidupan yang kering ibarat sebuah kerisauan diri Dalaf untuk menaklukan semua belantara kegundahan hatinya. Kerisauan yang mengamit segenap raung hatinya karena mendapat nilai B+ di Mata Kuliah Statitika di Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. Dalaf menyangka nasibnya menyedihkan. Hingga dia terbawa arus perasaannya. Aku sendiri hampir saja terikut irama kesedihannya. Mencoba berpikir dengan hati bukan logika seperti yang biasa aku lakukan. Aku mencoba mengolah jalannya otakku, sedangkan kenyataannya tak ada satu manusia pun yang mampu melakukannya.
Kegelisahannya semakin diperkuat diperkuat dengan kelemahan lahiriah yang seperti sudah menjadi fitrah saja bagi Dalaf ketika melewati rumah mantannya yang bernam Mawar. Kelemahan sang diri pada prinsipnya merupakan bagian yang tak perlu kusesali. Menyesali kelemahan dirinya yang tak bisa melenyapkan masa lalunya bersama Mawar adalah satu kebodohan bagiku. Aku kembalikan diriku pada pikir logikaku. Menuntutnya untuk membuang wanita itu dari dalaf adalah lambing ketidakberanianku melawan takdir. Perbuatan tak jauh lebih buruk daripada membunuh diriku sendiri. Itu menjadi titik kelemahanku menjalin perhubungan yang dibangun dengan rasa percaya ini. Kenyataannya banyak orang yang merasa pantas dan terhormat mengakhiri hidupnya ketimbang melakukan kelemahannya. Aku tak mau menjadi orang yang lemah seperti itu. Aku berani melewati dan mencintai Dalaf yang sarat dengan masa lalu yang suram sama seperti aku memeluk senja ini dengan hati yang damai.
Kesendirian ini membuat aku semakin mentakjubi Magrib. Aku fokuskan pada mega merah begitu menyentuh lembut hatiku. Aku selalu melihat mendesah nafasku pada suatu sisi istimewa di hatiku. Magrib adalah saat bercinta dengan Zat yang melindungi muka bumi dan orang-orang sibuk mengatur jadwal bercinta dengan pasangan mereka masing-masing. Karena aku dan Dalaf telah berjanji untuk menjauhkan diri di bulan yang suci ini demi menjaga sucinya niat kami dalam ajang pernikahan itu, aku lebih memilih untuk mencintai Magrib dengan sepenuh hatiku. Dengan mendengarkan lagu An-Naba’ dan Musik “Bermuka masam” yang terdapat dalam sebuah surat Al_Quran. Sangat sayang sekali tak ada surah yang berarti “Orang bergigi rapat” seperti permintaan Dalaf. Aku ingin mendapatkan jadwal kencanku bersama Magrib ini, di hamparan panjang sebuah suci permadani. Nanti apa bila ku dan Magrib berada di puncak kenikmatan itu, sudah tentu menetesi permata kebahagiaan satu persatu dari kelopak mataku. Aku ingin mendapatkannya lebih awal dan setelah itu aku akan membisikan ke telinga kekasihku yang tadi tertidur “Kandaaaa.. Pulanglah. Keluarga kanda menunggu untuk menikmati perbukaan bersama kanda. Dinda mau sendiri bercinta dengan Magrib. Dinda ingin bermesraan dengannya.
Satu hal yang ingin ku nyatakan pada Dalaf. Pada saat ini aku membutuhkannya, tapi aku lebih rela dia menikmati ibadahnya. Aku ingin dia tahu bahwa keinginan tak selalunya menjadi kenyataan. Seperti dia menginginkan Nilai A tapi yang didapatkan adalah nilai B+. Cukup sederhana dan simpel sekali perjalanan hidup ini. Paginya kita sibuk membenahi diri agar siap menghadapi tantangan siang dan supaya tidak tertindas dalam deru persaingan. Allah memberikan nilai sebagai cerminan atas usaha kita selama ini buakn untuk mengukur kepintaran atau ketidakpintaran kita di dalam belajar. Lebih baik tersenyum dari harus mengikuti luka yang tanpa sengaja dibuat oleh dosen kanda. Tidak kita iri pada senja yang emngiringin Magrib, kita dibuai dengan berjuta kemesraan dengan orang-orang yang kita cintai. Saat yang membawa sekantong gelap adalah saat kita mencas kembali tenaga, memulihkan stamina dan mengharap keberkahan hidup kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Pagi, petang dan malam tak mampu mengubah nilai itu sayangku. Tidakkah kanda bersyukur dinda ada disini menemani kanda yang lagi keasyikan mengingat masa lalu bersama Mawar sambil menatap laptop dengan mengerjakan sertifikasi seorang Doktor di FKIP UIR. Tidakkah kanda bersyukur, dinda masih setia menemani kanda, menggenggam erat tangan kanda seraya berucap “Bersabarlah sayang. Kanda pasti bisa kuat. La-Tahzan” di saat hatinya tersayat-sayat oleh lakumu yang tak mampu melepaskan Mawar. Masihkah kanda bersedih, ketika dinda masih bisa mengahdiahkan senyum di saat menyaksikan kanda gagal menstipo kenang lalu itu. Aku masih bisa tersenyum. Karena menikmati kesedihan bukanlah dapat menyembuhkan luka. Aku bisa berpikir logika. Kejujuran dalaf adalah segala-galanya dibandingkan masa lalunya bersama Mawar. Mencintai Dalaf berarti mencintai masa lalu Dalaf. Hidup akan nikmat, ketika kita mampu menikmati saat suka, duka dan lara dengan ikhlas seraya bercinta dengan Magrib. Begitulah ritme hidup yang aku pahami, sangat sederhana.
Aku seperti orang-orang di dekat lingungan kerjaku. Sebagai seorang dosen. Gajiku sangat menyenangkan kedua orang tuaku. Itu karena mereka adalah pasangan yang bersahaja hidupnya tanpa mengharapkan harta berlimpah dariku. Mereka begitu ikhlas mendampingiku walau harus mengorbankan kerinduannya untuk selalu bersamaku.
Dalaf, kamu selalu saja cemburu ketika aku kirimkan pesan singkat bahwa aku ingin bercinta dengan Magrib. Kamu tidak boleh cemburu, karena cintaku padamu tak mungkin tergantikan dengan yang lain. Tapi Magrib, aku kira aku lebih tepat menyebutkannya sebagai jelmaan dirimu saja. Biar aku tidak dikira selingkuh. Ya, karena hampir satu jam aku memaku di sini, di lobi tempat kita bercinta. Tempat kau menyuapi aku makan. Di ujung pecan baru, tepi bibir kota Kampar kita, hanya senyum dan tatapan manjamu yang selalu menggantung di pelupuk mataku. Dalaf Aku merinduimu. Jangan kau Tanya berapa besarnya.
Hembusan angin malam yang serasa nafasmu kini merayap segenap keberanianku melawan rasa cemburu itu. Karena kehadiranmu lebih aku rindukan dari semua luka yang pernah tercipta antara kita. Lukisan alam yang tak mampu disaingi oleh lukisan Monalisa sekaliber apapun, karena lukisan Allah begitu sempurna dan teramat indah, tak terkalahkan merayap pada setiap seluruhmu. Wajahmu. Bibirmu. Jemarimu. Dan seluruh sudutmu.
Sayang.. semoga Allah mengambil keresahan yang ada dalam hatimu akibat nilai B+ dan kenanganmu bersama Mawar. Kau harus tahu. Aku disini selalu setia menunggumu untuk bercinta. Aku mencintaimu seperti ku mencintai Magrib ini.
Kehidupan yang kau anggap rumit yang sebenarnya wujud karena kealpaanmu untuk menghadirkan rasa ikhlas dalam hidupmu. Kealpaan sejenak yang mampu mencuri senyum manis yang diturunkan Almarhumah ibumu. Dirimu kalah pada kelemahan sebuah penilaiain yang notabenenya sudah menjadi entitas seorang manusia. Kau lupa akan penilaian Allah itu lebih baik jika dirimu ikhlas dan berbaik sangka pada orang-orang yang telah mencoba membuatmu jatuh. Lupakah dirimu, engkau tak pernah terjatuh akibat tolakan itu? Karena aku yakin kau begitu tegar dengan semua yang pernah aku lihat dirimu dalam melawan semua kebatilan yang kita saksikan di lingkunngan kerja kita. Buat apalagi disalahkan kelemahan itu. Aku saja tidak pernah menyalahkan dirimu yang masih mencintai Mawar dan menyayangi Meysa Putia, disaat aku telah melupakan masa laluku demi dirimu. Semua itu sangat manusiawi sekali. Ciptaan Tuhan yang sempurna tak semestinya diterjemahkan sebagai lagu tanpa nada dan suara.
Dalaf… apakah tidak terlalu naïf apabila memaksakan diri menarik sebuah kesimpulan yang hanya melatari asumsi-asumsi yang tak berdasar sama sekali. Sehebat apapun akal manusia, tetaplah sebagai ciptaan Allah. Ada kalanya dia mencapai puncak cemerlang yang berlian tapi tetap merunduk seperti ilmu padi. Tapi satu ketika ia menjadi sangat tidak berguna apa-apa ketika hati mampu mengalahkan segalanya. Sebagi makhluk social, kita tidak terlepas dari aspek penilaian. Adakalanya kita sebgai penilai, ada saatnya kita dinilai. Seperti kita yang terkadang menilai B, kita juga harus siap dinilai B. Bukankah Allah itu adalah zat yang sempurna. Sedangkan kita tidak bisa sesempurna DIA. Kita melalu fase hidup yang unik dan menarik atau kau lebih mengenal dengan istilah LUCU (sampai saat ini aku belum begitu paham dengan maksud perkataanmu itu), tapi bukan sebagai kesempurnaan tanpa batas. Alam pun akan binasa galaksi dan tata surya juga akan lebur. Otak manusia pun telah menangkap sinyal-sinyal itu bahwa alam benar-benar akan binasa dan sirna.
Dalaf kuciptakan cerita pendek ini sebagai pengganti diriku di malam-malam ibadahmu. Kesadaran akan pentingnya hari esok janganlah sampai membuatmu tersemutkan hingga kaki-kai yang kurus itu menyendalkan dirimu saying. Ada yang berbahagia ketika dirimu bersedih. Satu yang paling pasti. Musuh manusia akan terbahak-bahak melihat dirimu terluka begini. Kenyataan hidup harus ditelah sebagai obat hati. Kesadaran pada dimensi metafisik seperti itu sebenarnya tidak harus menjerat pemikiran pada prasangka yang tidak beralasan. Kau boleh percaya akan pikiranku ini. Tapi aku Cuma bisa berpikir sambil mencoba merasakan gundahnya hatimu yang tak mampu aku lukiskan atau aku tuliskan dalam cerpen ini.
Jika kujadikan kelemahanku ini satu hal penting dalam hidupku, maka aku akan menjadi manusia paling rapuh Dalaf. Kau tahu begitu banyak penderitaan yang aku lewati dalam setiap kembangan senyum di bibirku. Tak akan pernah aku biarkan rasa sakit menguasai seluruh tubuhku. Sakit karena gagal. Aku merasa cukup. Bahkan sesekali aku sangat nikmat dengan tikaman luka yang aku terima. Asalakan dirimu elalu jujur padaku Dalaf. Aku percaya pada setiap katamu.
Aku saksikan betapa sempurnaaanya ciptaan Allah melalui dirimu, masa lalumu, perasaanmu yang menggebu. Kelengkapan dan keindahan ciptaan-Nya itu, aku hanya menilai dalam tatapanku terhadap Magrib ini, sebagai seorang manusia biasa yang juga dibekali dengan seperangkat mekanisme biologi dan fisik yang membuat aku mampu bertahan dalam pertarungan hidup. Pahitnya sebuah kenangan aku jadikan jalan untuk aku menemukan jati diriku yang ikhlas mencapai ridho Allah. Jika aku bercita-cita mendapatkannya, maka aku harus bertarung dengan pahitnya sebuah perjuangan. Karena aku ingin jadi pemenang. Bukan orang yang gagal.
Aku sudah terbiasa tidur dengan selimut semangat dari moto hidupmu. Menjalani hidup tidak seperti roda yang berputar, tetapi mengalir seperti air hingga bebas menemui laut lepas. Bagiku kita adalah pemenang yang bahagia hati dan dirinya bukan pecundang yang jiwanya selalu merasa gelisah. Keindahan ciptaan Allah pada ala mini ku pikir menjadi satu kerugian jika diisi oleh orang yang kalah. Kita kan binasa jika kita tidak bersyukur. Magrib adalah nikmat terindah. Tak salah aku bercinta dengan Magrib ini.
Ku menatap dalam tidur DALAF
Ku menatap seluruhnya. Tangannya. Wajahnya. Bibirnya. Matanya. Hidungnya. Kakinya. Dia kelihatab begitu tenang dalam tidurnya. Aku mengusap beberapa kali kepalanya. Aku ingin sekali hadir dalam ketenangnnya. Hadir mengekalkan kedamaian yang menyelimuti setiap senyumnya.
Ingin ku gariskan tangan ini pada wajahnya. Tapi kembali aku teringat hari ini puasa. Ku tak ingin pahala puasanya rusak karena aku.
Sayang.. Tak bisa ku lukiskan keindahan yang kulihat hari ini dari dirimu. Keindahan yang menyelimuti seluruh kehadiran desah nafasmu. Kehadiran dalam setiap tarikan nafasmu yang begitu indah. Ku tak menyangka.
Ya Allah semoga kelak. Wajah dan seluruh Dalaf yang ku tatap dalam tidunya hari ini menjadi miliknya.
Aku mencintanya karena-Mu. Aku akn berusaha di bulan suci ini menjaga rasa yang membuncah di dadaku ini. Agar hamba mendapat Ridho-Mu dalam hubungan kami. Hamba berdoa... semoga Engkau memilih Dalaf sebagai Suamiku kelak, Dan memilihku sebagai istri Dalaf. Kabulkanlah doaku Ya Allah.
Ingin ku gariskan tangan ini pada wajahnya. Tapi kembali aku teringat hari ini puasa. Ku tak ingin pahala puasanya rusak karena aku.
Sayang.. Tak bisa ku lukiskan keindahan yang kulihat hari ini dari dirimu. Keindahan yang menyelimuti seluruh kehadiran desah nafasmu. Kehadiran dalam setiap tarikan nafasmu yang begitu indah. Ku tak menyangka.
Ya Allah semoga kelak. Wajah dan seluruh Dalaf yang ku tatap dalam tidunya hari ini menjadi miliknya.
Aku mencintanya karena-Mu. Aku akn berusaha di bulan suci ini menjaga rasa yang membuncah di dadaku ini. Agar hamba mendapat Ridho-Mu dalam hubungan kami. Hamba berdoa... semoga Engkau memilih Dalaf sebagai Suamiku kelak, Dan memilihku sebagai istri Dalaf. Kabulkanlah doaku Ya Allah.
Ingin KuPELUK hadirmu
Terima kasih ya Allah Ya Rahman Ya Rahim.
Syukurku pada Engkau Ya Razak, telah menghadirkan penyembuh untuk luka bathin yang kurasa saat ini. Engkau telah menghadirkan Dalaf dalam kehidupanqu.
Saat ini, aku menghadapi tekanan mental yang begitu dalam. Tekan yang begitu menghujam. Saat aku tak bisa berbuat banyak untuk seorang kakak yang amat aku sayangi. seorang kak yang selama ini bisa membuat aku tersenyum. Aku tak bisa berbuat apa-apa saat kami dihina oleh mahasiswa kami.
Bagiku hal itu biasa, karena kehidupanku keras. Hatiku terbuat dari baja. Kata-kata seperti itu tak begitu pengaruh tarhadapku.
Tapi tidak buat kak Ema. Hatinya kukenal seperti gunung Es, keras tapi mudah mencair. Perkataan mahasiswa yang tak mau aku tulis diblog ini, membuat luka di hati kak Ema. Hingga berdarah sudah hatinya.
Aku bisa menghapuskan air matanya dengan nasehatku. Tapi aku tau, aku tak bisa menguncangkan pendiriannya yang begitu keras.
Kucoba menasehatinya untuk tidak menghukun Dwi Viora yang bersalah itu. Biarlah Allah saja yang berhak terhadap ciptaanya. Tapi tetap saja tak bisa.
Aku menyadari kak Ema, bukanlah wanita yang bisa dipermainkan seenaknya. Hatinya yang suci itu, harus tetap selalu ku jaga. Aku jadi ingat kata-kata Dalaf untuk selalu peduli dengan orang sekitarku termasuk pada kak Ema. Karena jika dia terluka, maka akan lama.
Aku yang selama ini terkenal tidak menjaga perasaan orang lain sadar akan kekuranganku yang membuat aku meneteskan air mata penyesalan. Meskipun tidak di depan kak Ema.
Ya Allah hamba bersyukur.. hari ini tidak emosi dengan kerenah dosen-dosen yang ingin menggagalkan ujian ke4 mahasiswa yang satu angkatan denganku itu. 4 masalah besar yang ku hadapi hari ini bisa terlewatkan dengan sebuah senyuman meskipun aku tak bisa membagi luka dengan kak Ema. Seperti biasa aku sendiri. Dalam kedukaan hatiku. Selalu tampil dengan senyum adalah kekhasanku menyembunyikan sebuah penderitaan yang membenak dalam hatiku.
Ku tak mau itu terjadi
Tak terpikir olehku dia berucap seperti itu. HUFT... kesal sebenarnya hatiku. Bagaimana tidak. Orang yang paling aku sayang mengucapkan kata-kata pernikahanku dengan lelaki lain.
Membayangkanya saja aku tak sanggup. Apalagi menjalaninya. Sungguh dalam waktu sekejap aku dan dia menjalani hidup yang terindah. Suka dan duka terlerai dalam setiap perjumpaan kami.
Bagaimana aku bisa menikah dengan lelaki lain, ketika kecupan hangat itu membekas dalam Otakku. Bagaimana bisa aku menikmati kebersamaan dengan lelaki lain.
Ya Allah...
Di hari yang suci ini, aku bermhon kepada-MU jauhkanlah ucapannya dari kebenaran. Aku ingin menikah dengannya. Bukan dengan lelaki lain. Pada-MU ku berharap.
Tak ada yang lebih kubutuhkan selainnya dirinya saat ini. Kehadirannya yang membuat aku selalu tersenyum meskipun kami dihujani banyak masalah.
Membayangkanya saja aku tak sanggup. Apalagi menjalaninya. Sungguh dalam waktu sekejap aku dan dia menjalani hidup yang terindah. Suka dan duka terlerai dalam setiap perjumpaan kami.
Bagaimana aku bisa menikah dengan lelaki lain, ketika kecupan hangat itu membekas dalam Otakku. Bagaimana bisa aku menikmati kebersamaan dengan lelaki lain.
Ya Allah...
Di hari yang suci ini, aku bermhon kepada-MU jauhkanlah ucapannya dari kebenaran. Aku ingin menikah dengannya. Bukan dengan lelaki lain. Pada-MU ku berharap.
Tak ada yang lebih kubutuhkan selainnya dirinya saat ini. Kehadirannya yang membuat aku selalu tersenyum meskipun kami dihujani banyak masalah.
Dosen Statistik di Prodiku..
Ku ingin bercerita seorang dosen yang menarik perhatianku. Hmmm... konon katanya dia jago dalam statistik. Hingga dia dipilih untuk mengajarkan ilmu hitung-hitungan itu diprodiku.
Aku menulis ini, untuk membuat dia tersenyum. Senyumnya yang hari ini MAHAL.
Ku bersama dia hari ini. menyaksikan keluarnya nilai statistik. Lama kami menunggu. Aku berharap dia mendapat A. Tapi Allah lebih sayang dengan dia. Allah memberikannya nilai B+. Intinya dia harus memperdalamkan pengetahuanya dalam ilmu itu. Bila perlu sampai S3.
Dianya sih sedih. Pastilah. lelaki yang ku kenal kental dengan perasaannya ini, pasti akan sedih. Andai saja hari ini tidk puasa. Sudah tentu ku cium dia. Aku tak mau dia terluka.
Ku ingin dia selalu menatap masa depan yang lebih baik. Dengan terus berusaha dan berdoa untuknya meskipun tidak dalam hamparan sajadahku.
Dalaf... Nilai B+ tidak mengurangi kecerdasanmu di otak, mata dan hatiku.
Sebuah Pernyataan Dalaf
Memasuki bulan suci Ramadhan, tepatnya tanggal 31 Juli 2011. Dalaf melisankan sebuah penyataan yang membuat hatiku mengigil karenanya. Jujur aku tak tahu lagi sampai dimana aku berpijak saat ngiangan suara itu.
"Kanda sudah pernah menikah sayangku."
"Apa?" Pertanyaan yang sengaja kulempar untuk mentidakkan apa yang baru saja aku dengar.
"Ia. Kanda Penah menikah."
"Kandaaaaa... Dinda percaya sama semua kata-kata kanda. Tolong jangan katakan sesuatu yang kebenaranya belum terjamin."
"Ia kanda sudah pernah menikah. Panjang ceritanya. Kenapa dinda tak mau?"
Entah kenapa dia mengalihkan pembicaraannya dengan objek yang di hadapanya yaitu laptop. Aku masih saja terkesima dalam keadaan bingung. Aku dalam keadaan yang tak jelas.
Sampailah sepupuku hadir di kediamanku. Kami shalat berjamaah. Lalu kami ke pusara ibu. Di tempat ini aku mengenal Ayah dan ketiga-tiga adik Dalaf. Dalam keadaan mental yang tak begitu siap, aku dikejutkan dengan kehadiran keluarga yang selama ini bermain di otakku. Aku mengenal Ayah yang hitam manis, ramah dan mudah tersenyum. Ningsih yang tak begitu suka denganku, terlihat dari ketidakhadiran senyum dari bibirnya atau huluran tangannya. Diakhir perjumpaan aku menyapa seraya berucap maaf sambil mengulurkan jemari-jemariku yang disambut dengan ujung jari lentik itu. Aku juga mengenal Aidil atauIdil aku juga tak begitu jelas, wanita bertubuh tinggi, sedikit kurus, cantik dengan penampilan kaca matanya, mengulurkan tangan sambil mengucap maaf ketika mencium tanganku. Annisa juga terlahat manis saat kedua tang itu mencoba memegang tubuhku saat mendekat, senyum khasnya yang masih melekat di kepalaku membuat aku selalu rindu padanya, apalagi suaranya yang manja ketika memanggil "ABAAAng.."
Pertemuan nitu melupakan aku pada pernyataan Dalaf tentang pernikahan siri yang dia ceritakan. Sepanjang perjalanan menuju SKA unbtuk membeli roti kesukaanku "Roti lelaki alias ROTIBOY yang Dalaf boyong sebanyak sepuluh buah.
Aku keasyikan dan terlupa. Tapi malamku tidak mendapatkan tidur yang nyenyak. Sebentar-bentar terbangun. Bukan karena lapar yang biasanya membangunkan aku, tapi karena terlupa akan satu hal yang amat penting. Tapi aku benar-benar lupa.
Keesokannya Dalaf datang ke rumahku, sambil mengerjakan kembali bahan sertifikasi dosen yang belum selesai.
Aku begitu saja teringat dengan PERNYATAANnya semalam. Ku menanyakan kebenarannya.
"Benarkah kanda sudah menikah?"
"Ia. Kenapa dinda nanya itu?"
"Dinda mau tahu kebenarannya."
"Ia kanda dah menikah. Tapi kanda punya alasan."
Kami terdiam untuk beberapa saat yang aku sendiri tak menghitungnya. Ntahlah apa yang ada dalam benakku. Aku begitu saja percaya dengannya. Dengan ucapannya barusan.
Aku resah tiba-tiba. Aku pergi meninggalkannya sendiri di tempatnya.
"Dinda percaya?"
"Percaya."
"kenapa?"
"Setiap bait kata kanda terekam di otak dinda. Jangan bicarakan sesuatu yang tidak benar."
Aku kembali menghampirinya. Dengan sedikit mengambil kembali senyum yang biasanya menghiasi bibirku. Tiba-tiba dia bicara.
"Dinda jangan berubah."
Entah kenapa aku pergi saja meninggalkannya. Aku ke kamar. Lalu ke kamar mandi seraya berucap
"10 kalipun kanda menikah, Dinda gak peduli. 100 kalipun Dinda tak peduli."
"Dinda percaya?"
"Dinda membangun hubungan ini atas dasar PERCAYA.
bERSAMBUNG...
"Kanda sudah pernah menikah sayangku."
"Apa?" Pertanyaan yang sengaja kulempar untuk mentidakkan apa yang baru saja aku dengar.
"Ia. Kanda Penah menikah."
"Kandaaaaa... Dinda percaya sama semua kata-kata kanda. Tolong jangan katakan sesuatu yang kebenaranya belum terjamin."
"Ia kanda sudah pernah menikah. Panjang ceritanya. Kenapa dinda tak mau?"
Entah kenapa dia mengalihkan pembicaraannya dengan objek yang di hadapanya yaitu laptop. Aku masih saja terkesima dalam keadaan bingung. Aku dalam keadaan yang tak jelas.
Sampailah sepupuku hadir di kediamanku. Kami shalat berjamaah. Lalu kami ke pusara ibu. Di tempat ini aku mengenal Ayah dan ketiga-tiga adik Dalaf. Dalam keadaan mental yang tak begitu siap, aku dikejutkan dengan kehadiran keluarga yang selama ini bermain di otakku. Aku mengenal Ayah yang hitam manis, ramah dan mudah tersenyum. Ningsih yang tak begitu suka denganku, terlihat dari ketidakhadiran senyum dari bibirnya atau huluran tangannya. Diakhir perjumpaan aku menyapa seraya berucap maaf sambil mengulurkan jemari-jemariku yang disambut dengan ujung jari lentik itu. Aku juga mengenal Aidil atauIdil aku juga tak begitu jelas, wanita bertubuh tinggi, sedikit kurus, cantik dengan penampilan kaca matanya, mengulurkan tangan sambil mengucap maaf ketika mencium tanganku. Annisa juga terlahat manis saat kedua tang itu mencoba memegang tubuhku saat mendekat, senyum khasnya yang masih melekat di kepalaku membuat aku selalu rindu padanya, apalagi suaranya yang manja ketika memanggil "ABAAAng.."
Pertemuan nitu melupakan aku pada pernyataan Dalaf tentang pernikahan siri yang dia ceritakan. Sepanjang perjalanan menuju SKA unbtuk membeli roti kesukaanku "Roti lelaki alias ROTIBOY yang Dalaf boyong sebanyak sepuluh buah.
Aku keasyikan dan terlupa. Tapi malamku tidak mendapatkan tidur yang nyenyak. Sebentar-bentar terbangun. Bukan karena lapar yang biasanya membangunkan aku, tapi karena terlupa akan satu hal yang amat penting. Tapi aku benar-benar lupa.
Keesokannya Dalaf datang ke rumahku, sambil mengerjakan kembali bahan sertifikasi dosen yang belum selesai.
Aku begitu saja teringat dengan PERNYATAANnya semalam. Ku menanyakan kebenarannya.
"Benarkah kanda sudah menikah?"
"Ia. Kenapa dinda nanya itu?"
"Dinda mau tahu kebenarannya."
"Ia kanda dah menikah. Tapi kanda punya alasan."
Kami terdiam untuk beberapa saat yang aku sendiri tak menghitungnya. Ntahlah apa yang ada dalam benakku. Aku begitu saja percaya dengannya. Dengan ucapannya barusan.
Aku resah tiba-tiba. Aku pergi meninggalkannya sendiri di tempatnya.
"Dinda percaya?"
"Percaya."
"kenapa?"
"Setiap bait kata kanda terekam di otak dinda. Jangan bicarakan sesuatu yang tidak benar."
Aku kembali menghampirinya. Dengan sedikit mengambil kembali senyum yang biasanya menghiasi bibirku. Tiba-tiba dia bicara.
"Dinda jangan berubah."
Entah kenapa aku pergi saja meninggalkannya. Aku ke kamar. Lalu ke kamar mandi seraya berucap
"10 kalipun kanda menikah, Dinda gak peduli. 100 kalipun Dinda tak peduli."
"Dinda percaya?"
"Dinda membangun hubungan ini atas dasar PERCAYA.
bERSAMBUNG...
Langganan:
Postingan (Atom)


