Jumat, 16 September 2011

Allah Peluk hamba

Ku seperti bercinta dengan tahajjudku kini yang mengutuskan damai dari Allah Azza Wajalla. Aku nikmati kalimah-kalimah ini tuk mentedehkan hatiku yang tengah tersakitkan oleh sesuatu hal.

Kini aku harus tegas dengan semua keadaan hatiku, berupaya untuk membujuknya agar menjadi suara deduan yang kan hilang di tiup angin.

Akan aku lakukan semua permintannya secara perlahan tapi pasti. Aku lakukan ini untuk mencapai Ridho-Mu ya Rabb.

Jika dulu aku pernah mempercayai dan mengharapi sebuah janji manis yang dilontarkan olehnya yang sangat aku cinta, maka ikhlaskan diriku untuk janji yang begitu sulit tuk dipenuhi. Biarlah kelak dia akan mempertanggungjawabkan janjinya di hadapan-Mu kelak.

Ya Allah... Kebahagiaan hati ini, adalah pemberinmu. Sabarkanlah hatiku menerima semua batasan hati yang tak mampu hamba tembus. Peluk hamba ketika hamba butuh kaih sayang. Hanya pada-Mu hamba berharap.

Kamis, 15 September 2011

Ku Titip Al-Fatiha buat Ibu Jasmaidar

Ku tak pernah mengenalmu

Ku tak pernah berjabat tangan dengan

Tapi segenapku rindu padamu

Lebih dari aku merindukan anakmu yang tak boleh ku rindu saat ini

Ibu.. ingin ku sapa dirimu dalam tidumu yang panjang itu

Ku kirim saja suara hati penatku padamu agar ibu tahu aku rindu.

Aku tak tahu pada siapaku mengadu selain padamu dan Allah yang satu.

Tak mungkin juga pada ibuku, yang nanti bisa menyalahkan anakmu

Ibu.. inginku mengunjungimu di tempat itu.

Tapi aku tak punya siapa-siapa ibu...

Malam jumat ini, Ku hadiahkanmu Al-fatiha. Ingin kusiram pusaramu dengan cinta dan kasih sayangku yang telah terhalang kini

Ibu... ku ingin segera menyusulmu... bertemu denganmu di syurga itu sambil menunggu anakmu yang mencuri hatiku itu

Teringin (Shima)

Sesekali ku rasa teringin melewati hatimu yang dingin

Mendengar keluh resah

Semenjak kau kehilanganku

Tiap kali kucuba hampiri

Makin deras degup jantung ini

Di ranjang kian sepi

Ku sendiri

Sesungguhnya tewas mengahadapi

Malah ku akui sepi menghantui

Paling tidak berilah ku peluang

Ku berterus terang.

Ada kala ku rasa teringin bermesra denganmu bagai waktu dulu.

Tapi bilakah semua ini, akan jadi pasti. bukan lagi mimpi

Kasihani diriku

Ku wanita dengan air mata bukan untuk meminta simpati

Sekadar melepaskan rasa hati

Aku Sakit

aarrrrrghhhhhhhhhhhhhh..

Arrrrgggghhhhhhhhhhhhhhhh

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

Aku sakit.

Allah...

Astagfirullah...

tak Punya Ide

Sejak kau pergi tak ada lagi gairahku tuk menulis. Semua menjadi semu bagaikan tak bernafas. Kenapa hati ini masih saja menuntut janji yang telah kau lafaskan. Walau aku tahu, semua itu sulit untuk dilakukan. Kenapa aku masih saja berharap. Huft...

Dia bohong kali ini

Ya Allah...

Ajari hamba bagaimana bersabar menghadapi persoalan hati  dari barisan-barisan masalah yang telah hamba hadapi. Bukan hamba tidak bersyukur dengan kehadiran dera yang menghimpit jiwa hamba saat ini. Tapi hamba tak sanggup saja menahan semua ini.

Dia begitu berarti bagiku.

Kali ini dia mencoba mengajari aku dengan sebuah keyakinan "kelak aku bisa membuka hatiku untuk pria lain." berkali-kali dia meyakinkakn aku.

Hamba ingin bertanya kepada-Mu ya Allah...

"Apa dia berbohong pada hamba?"

Hamba tak percaya. Sungguh tidak percaya. Dia mengatakan itu. Dia berbohong kali ini.

Alangkah sedihnya hamba.

Aku

Pergilah!

Aku semaki buas dengan tikaman-tikam luka yang diiris Dalaf pada ulu hatiku. Malam tadi saja misalnya dia mengatakan

"Apa perlu kanda melakukan sebuah kesalahan besar agar dinda bisa membuka hati buat orang lain."

Ya Allah... Maafkanlah diriku yang telah hadir dalam kehidupannya. Kini aku terasa seakan merepotkannya oleh rasa cinta untuknya. Harusnya aku sadar saat dia bicara tadi malam. Aku bukan lagi miliknya.

Ya Allah. Tariklah semua cinta yang aku punya buat dia selama ini. Biar saja aku menikmati tikaman luka yang dia berikan saat aku tak berdaya dan terhina begini. Ketika semalam dosen FKIP menggosipkanku di Musalha yang dah lama tak kukunjungi.

Aku tak merasa sedih, ketika semua mereka menjelek-jelekkan diriku, lalu memuja Meysa dan Dalaf.

Aku terasa sendiri dengan keadaan sore semalam yang memboyong kesedihan akibat ucapan-ucapan itu. Biarlah aku terluka.

Apa yang harus aku lakukan ya Allah.

Malam ini aku tahu satu hal. Dalaf terasa bimbang dengan keadaanku yang sekarang. Membuka diri dan menutup hati.

Aku mersa menjadi orang yang paling tak berguna, ketika orang yang aku sayang harus bimbang dengan keadaanku. Hingga dia ingin melakukan kesalahan besar.

KETIKA DIA MENIKAH DENGAN ORANG LAIN, IKHLAS BAGIKU ITU BUKAN KESALAHANNYA. ADALAKAH YANG LEBIH BESAR DARI ITU?

Jika kelak memang ada, anggap saja itu bukan kesalahan. Bukan aku tak rasional lagi. Bukan. Sekali-kali bukan.

Aku tak terbiasa menyalahkan orang lain, termasuk musuhku sekalipun. Apatah lagi dia yang aku cinta.

Jika dia risau dengan keadaanku, itu berarti dia telah meniadakan aku dalam kisah cintanya lagi.

Jika dengan sadar dia meminta aku membuka hati, haruskah aku melakukan itu? Haruskah aku memaksa diri untuk itu? Bukan itu bisa berlaku secara alami tanpa paksaan.

Pangeran Syurgaku jika rasa ini membuatmu terganggu, abaikanlah aku. Lupakan sajalah aku. Anggap aku tak pernah ada dalam hidupmu. Bila perlu anggap aku tak pernah ada di dunia ini. Seperti Yang dilakukan Mawar terhadapmu.

Aku ikhlas dengan semua itu, karena ku tau siapa aku. Aku juga tahu siapa aku di sisimu kini. Mungkin lebih hina dari seorang penyelingkuh. Aku tak akan membuat dirimu merasa berdosa lagi.

Biarlah aku di sini. Memujuk hati ini. Kelak akan ku temukan obat hati.

Pergilah bersamany! Anggap dirimu tak pernanh mengenalku. Anggap saja aku tak pernah lahir untukmu.

Rabu, 14 September 2011

Berjabat Tangan dengan Meysa

Aku sedang tersenyum akibat ulah mahasiswaku yang belajar mata kuliah belajar dan pembelajaran. Usai ngajar aku juga masih menyisakan senyuman seperti biasa yang aku lakukan

Selasa, 13 September 2011

Doa Penghibur diri untuk pangeran Syurgaku...

Assalammu'alaikum Wr... Wb...

Bagaimana calon suami yang dipilih Allah untukku? Mungkinkah lagi tersenyum Menanti aku yang ada tak bisa Dirimu dekati, atau menantiku yang jauh atau bisa jadi sedang berdoa kepada Allah ya Rahman untuk mengubah takdirnya untuk aku jadi milikmu. Sayangku... Percayalah Allah selalu bersama kita
Pangeran Syurgaku. Masihkah setia dirimu menantiku sambil menengadahkan tangan berharap limpahan Allah mendekatkan kita?

Mungkinkah penantian ini membuat dirimu jemu, seperti jemunya bunga pada tangkainya? Aku pikir tidak untuk yang satu ini, dirimu seperti jengkol yang tak pernah mau berpisah dari tangkainya. Seperti pepatah Melayu mengatakan “Tangkai Jering”

Aku yakin dirimu menganggap penantian ini sebagai hal yang 'TERINDAH' Dirimu tahu bagiku, menanti adalah hal TERINDAH. Kita bisa memetik banyak keuntungan dan meraut kebahagiaan yang tertunda. Banya hal yang bisa kita lakukan Membaca, menulis, diskusi ringan, atau hal lain yang bermanfaat , Seperti diriku yang mengisi hari dengan menulis.

Menanti bisa membawa kita melihat ke atas. Melihat Bulan dan bintang. Selain menghilangkan rindu merenungkan keagungan ciptaan Allah yang tak terbayar oleh otak kita. Lihatlah sayang! Apa yang ada di sekeliling tempat dirimu menanti Allah meletakkku di sampingmu kelak.

Percayalah bahwa tak selamanya sendiri itu perih. Sendiri itu nikmat. Kita punya banyak waktu untuk berkarya dan melakukan kreatifitas. Aku mengenalnya menunggumu menjadi suamiku adalah ajang kreatifitasku.

Maafkan aku wahai pangeran syurgaku yang kini masih belum menghampirimu. Bukan ku tak ingin, bukan ku tak mau, bahkan aku tak berniat menunda. Kita Cuma belum matang. Allah meminta kita belajar dari takdir yang ada.
Di tempat Dirimu menapaki diri saat sekarang, tak usah Dirimu resah apatah lagi gundah yang menggendong gelisah. Aku menyadari kepergianmu ke sana telah meninggalkan kesan betapa rindunya dirimu akan kehadiranku dalam tidur dan jagamu di hari-harimu serta malam-malammu. Unggu telah menciptakan lagu untuk kita “Percayalah padaku”

Sayangku yang akan dipilih Allah mendampingiku.. Aku sebenarnya sudah rindu padamu. Yakinlah.. setiap hari bertambah, maka akan waktu pertemuan huruf kita akan segera terjadi. Dan tiada siapa yang boleh menghalaginya. Karena tiada tali pemisah hubungan kita.

Percayalah padaku

Aku akan datang, tapi mungkin tidak sekarang. Jalan ini masih panjang, banyak hal yang menghadang. Aku yang baru belajar arti kecewa. Kecewa akibat ditinggalkan oleh cinta yang kini mengajarkan aku untuk tidak akan pernah menyia-nyiakan ketulusan yang Dirimu hadiahkan padaku kelak. Aku takkan biarkan dirimu terluka, apatah lagi berdarah. Karena cinta itu bukan untuk menyakiti. Mencintai berarti memiliki, karena kepemilikan adalah bukti dari cinta sejati yang dititip Illahi. Tapi jika aku terlupa dan mengkhianati, jangan berhenti menasehati diri ini.
Oh. Labuhan hati tempat rebahan hati ini. Aku menadaimu dirimu dalam lirik-lirik lagu yang tak bisa kunyanyikan. Sedetik tiada tersisakan hingga lonjakan hati tak mampu kuhindarkan. Berangan tentang keindahan sekelibat bayangan kemanjaa sebongkah kisah harapan untuk masa depan kita dan anak-anak kita. Percayalah syurgaku. Allah menjadikan hatiku setegar karang yang tidak akan terkikis oleh gelombang-gelombang Tsunamipun. Meskipun cobaan datang dan pergi ibarat air yang terus mengalir mencoba membunuh karang dari panjang jalan perjuangan, rasa kasih sayang yang tak hanya menyembunyikan sebuah kegelisahan.

Oh...Labuhan hatiku...

Aku saja tak menangis. Kenapa kini Dirimu pergi jauh hanya untuk membuang keperihan yang tak sengaja aku lakukan. Jangan menangis, jangan bersedih, hapus keraguan di dalam hatimu
Percayalah pada Rabb-mu, Yang Maha Pemberi Cinta, bahwa ini hanya likuan hidup yang pasti berakhir. Yakinlah...saat itu pasti 'kan tiba. Dirimu tetap pangeran tertampan dan lelaki TEROMANTIS yang aku punya. Aku akan bahagia karena melilikimu karena Imanmu yang menyirami aura Syurga.
Bersabarlah sayang...sampai saatnya nanti aku benar-benar siap. Pernikahan tak dibangun dalam sebulan, tapi ia bisa hancur dalam sedetik.

Matahariku. Jangan pernah merasa, hidup ini tak adil. Kita tak akan pernah bisa mendapatkan semua yang kita inginkan dalam hidup. Pasrahkan inginmu sedalam qalbu, pada tahajjud malammu. Bariskan harapmu sepenuh rindumu, pada istikharah di shalat malammu. Mintalah rezeki kasih syurga di dunia, Syurga di akhirat dan syurga dalam cinta di setiap Duhamu.

Bersabarlah penghadiah sayangku. Kembalilah pada-Nya, ke dalam pelukan-Nya

Jika memang Dirimu tak sempat bertemu diriku, apatah lagi jika Dirimu merindukan diriku. Sungguh...itu karena dirimu begitu mulia, begitu suci Dirimu menjadi pengeranku di syurga Allah kelak. Meskipun di dunia tiada kepemilikan dalam ikatan pernikahan, tapi tetaplah sama dalam cinta Allah.

Skenario Allah adalah skenario terbaik. Karena kita tak lebih besar dari setitis air di lautan. Allah pasti tahu kenapa kita diletakkan-Nya di tempat terbaik itu. Dan itu pula yang telah Ia skenariokan untuk kita karena Ia sedang mempersiapkan kita untuk lebih matang menyulam hari mendatang

Pangeranku.. ingin ku katakan padamu..

Kumerinduiku, ku bersabar menanti saat indah jelan penyatuan cinta kita dalam ikatan pernikahan itu.

Aku di sini dalam keadaan baik-baik saja dengan limpahan karenia dan keberkahan Allah. Tida aku lelah menantimu berkelana. Menantimu menyusuri jalan lurus yang berbelok-belok. Karena setiap belokan itu berarti lurus bagiku. Aku tau dirimu telah menjadikan janji itu sebagai kompas. Aku tiada lelah menantimu yang kini lagi menikmati hangatnya perapian sambil meneguk manisnya teh hangat yang disuguhi oleh bidadarimu yang pertama Dirimu pilih utntuk menemanimu di syurga kelak. Aku tetap bertahan menanti karena aku percaya Dirimu tidak bersalah dalam ketidakbersamaan kita di dunia yang sementara ini

Bila waktu itu telah tiba, akan aku kenakanlah mahkota itu, dan kenakanlah gaun indah itu meskipun tak berjahit. Biarlah aku pergi dulu menantimu di syurga yang telah kita impikan di dalam doa kita.
Malam ini terasa panjang dengan air mata yang mengalir akibat rindu yang terhalang. Hatiku terasa kelu dengan derita yang mendera akibat rasa cinta yang tak bisa aku nyatakan seperti biasa saat Dirimu sendiri saja. Ku nikmati kutahan derita malam ini sambil menghitung bintang yang biasa kita lakukan setiap kebersamaan malam kita kemarin. Cinta membuat hati terasa terpotong-potong Jika di ata sana ada bintang yang menghilang, mataku berpendar mencari bintang yang datang. Karena aku telah memilihmu maka akan ku tunggu sampai dirimu datang

Akan kuawali hari-hari kesendirianku dengan tasbih, tahmid dan shalawat dan mendo'akanmu agar Dirimu selalu sehat, bahagia, dan mendapat yang terbaik dari-Nya

Aku tak pernah berharap, Dirimu 'kan merindukan keberadaanku yang menyedihkan ini

Hanya dengan rasa rinduku padamu, kupertahankan hidup. Maka hanya dengan mengikuti jejak-jejak hatimu, ada arti kutelusuri hidup ini Mungkin Dirimu tak pernah sadar betapa mudahnya Dirimu 'tuk dikagumi. Akulah orang yang telah bersedian dan setia selalu mengagumi, mengawasi, menjaga dan mencintaimu

Pangeran Syurgaku...

Ku hanya bisa mengagumimu dan merindukanmu meskipun rindu terlarang. Aku tetap berharap, terus berharap. Berharap aku 'kan segera datang. Tak akan pernah berhenti berharap. Karena harapan-harapanlah yang membuat ku tetap hidup

Bila Dirimu jadi suamiki kelak. jangan pernah berhenti memilikiku dan mencintaiku hingga ujung waktu. Tunjukkan padaku Dirimu 'kan selalu mencintaiku Hanya Dirimu yang aku harap. Telah lama kuharap hadirmu di sini. Meski sulit, harus kudapatkan

Jika tidak kudapat di dunia, maka ku kejar dengan doa menanti di surga

Aku tau cintamu tak hanya buat aku. Kau ibarat kumbang yang tak hinggap di satu tempat. Aku tahu itu, meskipun rasa cemburu menderku ketika itu. Aku tak takut meskipun dirimu terlalu liar. Aku tahu sayang Namun sejujurnya, semua itu hanyalah persinggahan egomu. Kau tak memilihku bukan bentuk kesalahan dan kekejamanmu, tapi hanyalah ketidak berdayaanmu melawan takadir Allah yang satu. Keliaranmu yang dinilai oleh sekian banyak bunga yang kau hinggapi hanyalah bentuk pelarian perasaanmu. Sayangku..dan sikapmu yang memunculkan ketulusanmu telah meluluhkan jiwaku. Sejak awal aku telah mengertimu.
Ya Allah...

Kurangkai doa ini..

Ampuni segala kekhilafan hamba yang hina ini. Ringankan langkahku. Beri aku kekuatan dan kemampuan tuk mengekalkan dan menyembunyikan cinta ini dari pengetahuannya. Ku mencintainya karena-Mu. Aamiin... Biarkan aku di sini mengagungkan kalimah-Mu

Wassalamu'alaikum Wr... Wb...

Senin, 12 September 2011

dari mario teguh

Apa pun kesulitan yang Anda hadapi dalam kehidupan ini, tidak cukup kuat untuk menggagalkan Anda, kecuali jika Anda menyerah dan berhenti.
Kesalahan memberikan kesempatan untuk memulai lagi dan meneruskan dengan kesungguhan baru dan cara yang terperbaiki.
Janganlah berkecil hati dengan kesulitan Anda, dan janganlah merasa rendah karena melihat keberhasilan orang lain.
Segala sesuatu ada waktunya.
Bersabarlah.
Waktu Anda akan datang.
Tetaplah memanjakan hati Anda kepada Tuhan.
Mario Teguh

Kusut tak terurai

Bungalah padi bunga kiambang
buat hiasan di taman bunga
buahlah hati kekasih orang
hamba menumpang gembira saja

tenang-tenanglah air di laut
sampan kolek mudik ke tangjung
hati terkenang mulut menyebut
budi yang baik saya nak junjung





Tak lagi berarti jika aku meneteskan air mata saat melihat foto ini. Entah apa yang ada dalam hati ini. Benar-benar terjadi hal yang tak sanggup aku bayangkan.

Ya Allah... Aku tetap bersyukur dengan semua ini.

Peluk aku Ya Allah. Ada kemudahan dibalik kesulitan.


Sabtu, 10 September 2011

Apakah DANAU, jika tak ada air di dalamnya?

"Kanda jalan Yuk."

"Ayuk. Kemana?"

"Kemana aja boleh. Yang penting jauh aja dari Pekanbaru."

"Oke. Nanti kanda jemput."

"Ya dinda di UR. Ikut Seminar."

"Jam berapa selesai?"

"12 gitulah."

"Ia sayang."

Kami dipertemukan di parkiran Masjid Ar-faunnas UR. memulai perjalanan setelah selesai shalt Zuhur.

Keadaan panas yang menghitami kulit tak begitu terasa, karena indahnya kebersamaan kami yang kian lama terpisah oleh status yang berbeda. Aku memeluknya sambil dia menggenggam lembut jemari tanganku, bahkan sesekali terkadang dia mengankatdan mencium tanganku. Seperti yang berlaku di setiap pertemuan istimewa kami.

Ketika aku mencoba melepaskan gengaman tangan itu, tiba-tiba saja motor kesayangan kami masuk ke dalam lobang. Aku kaget. Aku sedikit ketakutan."

"Sayang takut?... Peluk Kanda. Jangan dilepas."

"Kok tahu? ia sayang, dinda gak akan lepas."

Kami melawati pemandang hijau nan indah. Serasa angin yang disertai debu menyapa lembut pipi kami. Meskipun berpuasa, tak mengurungkan niat kami tuk terus melanjutkan perjalanan.

Singkat cerita, kami sampai di candi muara takus berkat bantuan seorang pakcik yang kami tanya di jalan itu.

"Semoga aja pakcik itu bukan saudara Meysa ya dinda."

"Maksud?"

"Ia. inikan kampung Meysa. Ini daerah kekuasaan Meysa ni dinda."

"Oh ya gitu. Semoga bukan kelurganya ya sayang."

Tiba di Candi Muara Takus kabupaten Kampar, aku teringat sebuah danau yang dulu sangat indah. Lalu aku mengajaknya ke sana. Kami dikejar oleh penjaga candi yang meminta bayaran Rp.20.000,-. Tiba di danau, aku sedikit kecewa karena airnya kering. Hmmm.. kami yang sama-sama buta pengetahuan tentang keberadaan air akibat PLTA yang diatur oleh listik yang dibutuhkan penduduk.

Kekcewaan kami terobati oleh keberhasilan kami memijakkan kaki ke dalam danau itu. Aneh memang kejadian yang jarang terjadi dalam pikiran kami ini. haha.. Kekuatan CINTA membuat kami berhasil menempuh danau. Mulai danau Toba sampau danau di candi Muara Takus. ingat aku ucapan Dalaf ketika itu.

"Wah... hahhaah.. Hebat kita ni dinda."

"Ia kanda. Kita hebat. Bisa masuk dalam Danau."

"Wah... hebat ya dinda."

"Lucu kan sayang."

"Tu kan dinda pakai bahasa kanda."

"Hmmm. Kanda memang hebat. Apa pula tidak. Ngangkat pohon getah aja bisa, apatah lagi masuk danau."

"ehMMmmmm. Sayang."

Kami berbicara sebentar dengan pakcik yang hendak mencari ikan dengan menggunakan sampan. Darinya kami tahu bahwa bumi yang terinjak oleh kaki kami ada tanah danau.

Kami melaju dengan bahagia. Melewati semesta yang mengiringi perjalanan panjang kami. Berhenti di candi muara takus. Sampai waktu Asyar. Kami kesulitan mendapatkan air. Setelah keliling sekitar Mushalla, kami mendapat tahu harus berwudhu di sungai yang tadi kami pergi. Melangkah dengan kehitunag detak kaki, menuntun kuat keinginan. Akhirnya kami mendapatkan air yang kami butuhkan. Usai berwhudu aku duluan naik ke atas, menunggunya di tebing. Kami istrahat sebentar. Berbaring di balai atau dermaga kecil itu.

"Kanda.. indahnya kalau kita bisa melihat bintang kita ya sayang."

"Ia ya dinda."

"Ayuklah kanda. Nanti dinda kentut pulak."

"Haaaaa.. Dinda bisa aja. Ayuk sayang."

Aku duluan melangkah, Dalaf mampir sebentar di buayan. Aneh terasa olehku. Aku tak seperti biasanya berjalan tak bisa melihat ke belakang. Tapi kali ini. Aku merasa membutuhkannya. Aku harus memperhatikannya. Aku memutar badan melihatnya. Rupanya dalaf juga sedang menatapku dari jau. Akupun tertunduk malu. Mengrtilah aku, bahwa rasa kekhawatiran kami sama.

Aku hampir tiba di Mushalla tika Dalaf jauh tertinggal olehku. Ku melihat ke hadapan, selan 1 menit di sudah mendhuluiku lalu menungguku. Inilah hal yang aku pahami sebagai kekuatan dalam CINTA. Dia akan mengjarku, kemanpun aku pergi. Katanya. "Kanda tak mau dinda tinggalin."

Kami shalat berjamaah. Lalu berdoa bersama. Usai shalat kami memperhatikan air yang ada dlam botol aqua yang kami ambil dari sungai tadi. sambil memperhatikan botol itu, dia menghampiriku. Lalu di berbaring di pahaku. Masih sempat aku memanjakannya. Kami saling berdekapan ketika itu. Tatap di batas ya wajar. Kini semua itu masih segar dalam ingatanku. Sulit untuk ku lupakan.

Suasana redup mengajak kami mengelilingi kemegahan Candi terpenting sebagai peninggalan  sejarah di Riau ini. Tak asa kami menahan gejolak yang membuncah di dada. Karena puasa saja. Jika tidak tak tahulah apa yang terjadi. Kmi berfoto bersama. Dan membuat sebuah vidio.

Kami pulang menyusuri jalan yang kami lalui tadi.

berbuka puasa di rumah seorang warga yang sudah lupa nama tempatnya. Kami shalt Magrib di Masjid sebelah itu. Masjid yang sangat esar dan cantik, tapi kelihatan sangat sedikit jamaah yang ada. boleh dikatakan lengang. Kami tidak makan di warung itu, karena dia berniat mau mengjakku makan kepala ikan di Salo.

Sesuatu telah berlaku. Usai berpuasa. Kami menglalami hal yang tak sanggup kami pikirkan sebelum dan sesudah kami menjalani itu. Sesuadah kami menikmati itu. Sesuatu hal yang sangat indah jika dikenang, dan sangat menegangkan kalau diingat. Tak percaya ianya terjadi pada jiwa kami berdua. Aku dan dia wajib menikmatinya. Aneh memang.

"Dinda... Tadi ada jalan yang berlobang seperti ini sayang."

"Ada kanda."

"Ooo/ Ya lah."

satu jam berlalu. Kami meneruskan perjalanan kami. Lalu aku mencoba mengingat di waku siang tadi. Aku tak ada melihat lalang dan bebunganya di samping kiriku hingga memaksaku berbicara.

"Kandaaaa.. Tadi perasaan tak ada lalang kayak gini kanda."

"Kita di sebelah kanan sayang. "

"Iya ya kanda."

Memang benar lalang itu hanya ada di sebelah kiri perjalanan pulang kami.

kami melaju terus

Terus.

Terus.

Terus.

4 kali masuk lubang.

Bertemulah dengan sesuatu yang membuat kami yakin kami tersesat. Spontan kami berucap

"SAYANG.. PERASAAN TADI GAK ADA POHON SAWIT." Kalimat yang serentak kami ucapkan.

Lalu kami melajutkan terus perjalanan kami. Terlihatlah tiga plank nama jalan.

1. Pasir Pangaraian

2. Dumai

3. Pekanbaru.

Kesimpulan. Kami tersesat sampai ke Pasir. Sekitar tiga puluh menit kami sampai di pasar Rohul.

Kami masih menyusuri perjalanan lurus yang panjang itu

"Dindaaaa.. Panjangnya jalan ni lagi."

"Sabar sayang. Pilih jalan panjang atau jalan buntu?"

Perut Lapar. Rumah makan tak kelihatan. Ya Allah. Tak terbayang akan seperti ini.

"Allah mengabulkan doa dinda untuk pergi jauh."

"Ya kanda."

"Memang jauh kanda."

Kami tetap saling berdekapan di atas motor itu. Tak satupun ada henti. Aku taku akan masuk lbuk lagi. Diapun tak memberi kesempatan aku untuk lari dari gengaman tangannya.

Kekuatan dan keberanian atas cinta yang kami miliki, akhirnya kami sampai juga ke Garuda sakti Pekanbaru.

Aku teingat ucapanya

"MERDEKA."

"Alhamdulillah."

Ini baru dikatakan tantangan.. Ya Allah. Senangnya hati kanda. Bebas. Merdaka. Dia tanpa sadar memeluk dan mencium keningku di Bakso muda-mudi Panam..

Kami saling menggenggam erat tangan kami. sambil melunjurkan kaki. Tak tau sudsh pukl berapa kami sampai. Pasti sudah tanggal 17 Agustus 2011. Kemerdekaan yang kmi rayakan di jalan. Pengalaman yang tak terlupakan.


Kini tinggal kenangn saja. Dalaf telah pergi bersama Meysa. Aku rindu padanya. Dan cukup aku saja yang tahu.